Rambling On: Manner

*Alohaa Ainaaaaa~

*Actually Aloha Aina itu nama restoran di Bandung, and for some times during my college years gue selalu bilang Halo pake Aloha Aina. Ga penting sih info ini, in case lo wondering aja kenapa gue menyapa pake Aloha Aina. Ga ada yang wondering juga sih kali ya, belom tentu juga ini blog ada yang baca. #ngok

Anyhooo, back to topic.

Sore ini gue mau ngomel ngomel masalah manner. Kenapa manner? Karena gue baru di telfon sama orang, yang ga akrab dan even gue suspect dia agak ga suka sama gue (atau malah sebaliknya? Yah, timbal balik sih sebenernya), yang mau minta tolong sama gue, dan dia ga pake salam, hanya menyebut nama gue dan langsung nyerocos aja gitu minta ini itu.

Ga tau kenapa gue kesel banget aja jadinya. Disatu sisi bisa jadi karena si mutual hate itu tadi, bisa juga karena nada suara dia yang ga enak. Piye sih Mba, kowe itu minta tolong lohhh posisinya, grrmblgrrmbl. Bahkan gue sengaja ngucapin “Halo Mba” beberapa kali, tapi dia ga ngeh juga bahkan ga membalas halonya gue. Hih.

Gue kadang ga paham sama orang kaya gitu. Disatu sisi agama lo baik, liat cewe ngerokok sensi, liat cewe rok pendek benci, liat cewe dandan menor mencibir, tapi STANDARD MANNER aja lo GA PAHAM!

Mungkin lo harus banyak banyak dengerin lagu Black Eyed Peas, Mba.

Nih ya gue kasi tau, khususon (ini bahasa yang sering dia pake) Mba Mba yang tadi sore nelfon gue.

MANNER 101

Ketika kita menelfon orang, ucapkanlah SALAM.

Yang termasuk dalam kategori Salam: Assalamualaikum, Hi, Hello, Selamat Pagi/Siang/Sore/Malam, dan kata sapaan yang setingkat dengan yang sudah disebutkan.

[ Nama orang yang di telfon ] TIDAK TERMASUK Salam.

Pengecualian: Teman/rekan yang ikrib, atau jika telfon itu sudah iterasi ke-2 dari serangkaian telfon.

Kalo lo, iya elo, mba-mba-yang-nelfon-gue-tadi-sore belom teryakinkan juga kalo mengucap salam itu penting, nih gue lampirkan berikut di bawah dalil agama yang tentang hukum mengucap salam.

Udah segitu aja mere mere sore ini. Mhihihi. Daah neeek.

KTHXBY.

Copas dari sini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَجْلِسِ فَلْيُسَلِّمْ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ فَلْيُسَلِّمْ فَلَيْسَتْ الْأُولَى بِأَحَقَّ مِنْ الْآخِرَةِ

“Apabila salah seorang kalian sampai di suatu majlis hendaklah memberikan salam. Dan apabila hendak keluar, hendaklah memberikan salam. Dan tidaklah (salam) yang pertama lebih berhak daripada (salam) yang kedua.” (HR. Abu Daud dan al-Tirmidzi serta yang lainnya  Hasan shahih).” Maknanya, kedua-duanya adalah benar dan sunnah.

 

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu berkata, aku mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ : إذَا لَقِيته فَسَلِّمْ عَلَيْهِ ، وَإِذَا دَعَاك فَأَجِبْهُ

“Hak muslim atas muslim lainnya ada enam: apabila engkau bertemu dengannya maka ucapkan salam, apabila dia mengundangmu maka penuhilah undangannya, . . . .” (HR. Muslim)

Now It’s Her Turn to Have Some of the Regular Stuff

image

When I was growing up, I didn’t have a normal mom and dad, or a regular family like everybody else. And I always knew that something was missing. But now I’m standing here today, knowing that I have everything I’m ever gonna need. You are my family.

Most beautiful wedding I’ve ever seen; both in TV and in real life. Tear-jerker episode. Happy tears :’)

Acute Laziness

I’m suffering from an acute laziness. And by acute, I mean ACUTE. It’s been weeks!

Sebagai orang yang moody, bukannya jarang gue menderita kemalasan. Pasti ada saat saat dimana gue males banget kerja. Membatalkan meeting dengan alasan si A lagi sibuk ke B, dan ke A bilang B lagi sibuk. Menggeser deadline dengan alasan yang gue buat sendiri, bahkan membolos kantor dengan alasan sakit. Tapi biasanya ini bertahan satu atau dua hari, setelahnya gue kembali semangat kerja.

On my normal day, gue tipe orang yang punya to-do-list untuk sehari. Dimulai dari pagi hari ketika ngecek email masuk, gue akan bikin mental notes akan hal hal apa aja yang akan gue kerjain hari ini, dan sore hari, gue akan mereview hal apa aja yang sudah selesai, kemudian membuat analisis singkat mana hal yang akan gue postpone ke besok atau minggu depan, dan mana sisanya yang akan gue kerjain hari ini. Kemudian gue akan mengerjakan semua pekerjaan yang sudah gue jadwalkan untuk selesai hari ini.

Pekerjaan gue membutuhkan self-trigger. Pekerjaan gue tidak di trigger dari pekerjaan orang lain. Justru pekerjaan gue mentrigger pekerjaan orang lain. I send an email, and then the project discussion/implementation rolling, flowing my mailbox. Kalo gue ga kerja? Mailbox pun sepiii.

When I consult my friends, katanya pekerjaan gue kurang tantangan, makanya gue jadi malas. Bisa jadi sih, pergeseran fungsi yang tadinya jadi Project Manager menjadi Business Analysis, dimana – excuse me for being honest but – fungsi Business Analyst itu ga terlalu efektif tanpa adanya otoritas yang pasti. Hasil analisis kita ga jadi apa apa kok, hanya pemanis aja. But then, pergeseran fungsi ini sudah terjadi dari tahun lalu, kenapa malasnya baru sekarang?

Selama ini gue selalu bisa menemukan hal baru untuk dikerjain, memperluas skill gue di luar jobdesc. Because when it comes to project, my motto is ‘To do whatever it takes to speed up the process’. Misalnya project stuck karena team business belom dapat Regulatory Clearance untuk sebuah product baru, biasanya gue akan agresif dan proaktif untuk memfollow up dan support apapun yang bisa bikin issue itu clear supaya projectnya bisa jalan lagi. Sekarang? Boro boro. Gue biarin aja tuh team Business sibuk sendiri, begitu udah dapat Regulatory Clearance, baru deh gue jalanin lagi proses implementasinya.

Dan biasanya, kalo team business minta suatu proses dijalankan paralel, I was always up for it. Gue akan manage team business supaya mereka memastikan proses yang satu pasti berjalan, dan meyakinkan team technical untuk in parallel ngerjain proses lainnya dengan pasang badan sebagai penjamin bahwa proses di team business pasti akan di fulfill. Sekarang? Boro boro. Taichi, men! “Lo beresin dulu proses yang ini, baru balik ke gue buat minta team technical ngerjain proses selanjutnya”. Gila, itu sih mentalitas yang selama ini gue lecehkan kalo ada di rekan kerja, sekarang ada di gue.

Tugas gue sebagai representative team business di team technical adalah make sure kebutuhan business dipenuhi oleh team backend sekaligus melindungi team backend dari keharusan memfulfill request request business ga jelas obcjectivenya. Dengan gue tidak menjalankan fungsi gue, team business akan membypass gue dengan push langsung ke team backend, dan team backend, either mereka mengiyakan dan hasilnya jadi punya banyak sekali hal yang harus di develop, atau mereka mengambil alih fungsi gue dengan menchallenge requirement team business untuk memanage lajunya incoming requests.

Dengan kata lain, semakin gue malas, kerjaan gue bukannya semakin menumpuk tapi malah jadi semakin sepi. Dan semakin sepi kerjaan, semakin malas. Deadly circle.

Gimana dong nih? Kok jadi pemalas parah gini sih?

 

Raconvo

“Do you think you know her? How she really is?”, said he.
“Yes”, I said.
“Do you really know her?”, he asked again, emphasizing the word ‘really’.
“I really do”, I said, assuring him. “I surely know her more than you do. That much I know”
“Do you believe 100% of what she said? You believe all the things she said?”, he asked me again.
I know where this is going. He’s trying to stir my opinion upon her. I sip my cig and blow the smoke slowly. “I know her enough to extract the truth from when she’s telling lies”
“Then you know it’s not true what she said about that, right?” He said, flicking his cig tip.
“I know”, said I.
“We’re on the same page then? Regarding her indecency?” He said, his tone is urgent eventhough he tried to surpress it.
“We are”, I nodded rather hastily.
He exhaled. Apparently he’s been holding his breath all the while.
I put out my cig and start to packed up my things, thinking, just because I acknowledge her indecency on the discussed matter doesn’t mean his is annulled.