Mengatasi Block Adf.ly oleh Mediafire

Pernahkah anda nge-klik sebuah link download, kemudian keluar page adf.ly, tapi setelah di klik skip ad yang keluar bukannya page downloadnya malah mediafire.com? Itu tandanya redirect access dari adf.ly di blog oleh mediafire sehingga tidak bisa mengakses page yang dituju, malah di direct ke homepagenya.

Jadi ceritanya lagi nyari-nyari file download Stronghold Crusader Extreme secara udah pengangguran *uhuk* udah sidang *uhuk*. Setelah akhirnya ketemu, langsung lah di klik link download yang dituju. Muncul page adf.ly seperti dibawah ini:

Seperti biasa, nunggu 5 detik sampai muncul gambar ini:

Lalu klik “SKIP AD” supaya di direct ke page download yang dituju:

Ealaah tapi yang keluar malah page ini:

Where the hell is my download page?!

Setelah googling googling ternyata itu artinya redirect access diblock. Cara mengatasinya gampang banget. Instead of click the “SKIP AD”, you should just DRAG the button to the URL bar:

Et voila! There’s your download page:

Happy download-ing fellas!

Cipher in CP9

Tau Cipher Pol number 9 kan? Yang di One Piece, organisasi super rahasia itu?

Well pagi ini saya tengah belajar Sistem Komunikasi Seluler dan menemukan kata-kata Cipher Key. Ternyata Cipher itu adalah salah satu algoritma yang dipakai untuk mengenkripsi maupun dekripsi data. Cipher key ini dipakai juga di SIM card handphone, yakni algoritma A8 yang menggunakan Cipher Key.

So a secret organization is named after encryption algorithm. Pretty cool.

[mitos!] Pemakaian AC dan Kulkas merusak Ozon?

siklus refrigerant

Kita tentu sering mendengar mitos seperti ini, bahwa pemakaian AC dan Kulkas dapat merusak ozon. Sebenarnya ini pernyataan yang salah. Yang benar, lepasnya Circulated Refrigerant (atau lebih dikenal dengan nama merk-nya : Freon) ke udaralah yang dapat menyebabkan rusaknya lapisan ozon. Freon ini sendiri tidak akan lepas ke udara apabila tidak terjadi kebocoran pada perangkat anda. Normalnya, freon hanya akan berputar-putar dalam suatu siklus. Untuk lebih jelasnya, saya akan memaparkan sedikit tentang cara kerja sebuah Air Conditioning.

Bagian-bagian AC:

1. Evaporator
Tempat terjadinya evaporasi. Bagian evaporator pada AC menghadap kedalam ruangan yang ingin (dalam hal ini) didinginkan. Disini terdapat freon yang bersuhu 10derajat, sementara suhu didalam ruangan (normalnya) 27derajat. Sesuai dengan hukum fisika, maka udara panas dari dalam ruangan berpindah kedalam evaporator, sehingga Freon yang tadinya berwujud cair dan gas berubah wujud menjadi seluruhnya gas (dengan suhu tetap 10derajat) -disebut juga proses evaporasi-

2. Kompresor
Freon yang berwujud gas kemudian dinaikkan tekanannya dengan cara memepatkan (kompresi). Suhu freon pun ikut naik seiring dengan naiknya tekanan, sesuai dengan rumus:
PV = nRT
*tekanan berbanding lurus dengan temperatur*

3. Kondensor
Kondensor diletakkan diluar ruangan (menghadap ke lingkungan) Suhu didalam kondensor (freon yang telah dikompresi) lebih tinggi dari suhu di lingkungan (biasanya) 30derajat. Sehingga terjadi kebalikan dari peristiwa pada evaporator, suhu panas pada kondensator dibuang ke lingkungan. Freon kembali kewujud cair.

Ada 3 jenis Kondensator berdasarkan cara pelepasan panasnya ke lingkungan:

  • Naturally air-cooled Condensor

Pelepasan panas ke lingkungan praktis karena perbedaan suhu. Misalnya kulkas. Oleh karena itu sebisa mungkin hadapkan bagian belakang kulkas ke lingkungan yang bersuhu rendah (misalnya ditaruh di dinding kamar mandi), dan jangan menempel rapat pada dinding.

  • Forced air-cooled Condensor

Pelepasan panas dengan cara memaksa udara panas dalam kondensor keluar ke lingkungan. Misalnya AC. Pada kondensor AC terdapat kipas yang memaksa hawa panas keluar ke lingkungan.

  • water-cooled condensor

Pelepasan hawa panas pada kondensor dengan meletakkan kondensor di air (yang suhunya lebih rendah dari kondensor) sehingga hawa panasnya berpindah. Contohnya pada pabrik-pabrik es.

4. Expansion Valve
Freon dalam bentuk cair diturunkan tekanannya sehingga suhunya pun turun. kemudian Freon akan kembali melewati tahap Evaporasi di evaporator.

Begitulah siklus tersebut terus berulang hingga tercapai suhu yang diinginkan. Freon tersebut akan terus berputar mengikuti siklus tersebut. Selama tidak terjadi kebocoran, maka penggunaan kulkas dan AC dirumah anda tidak akan merusak ozon:)

Untuk itu yang harus kita lakukan untuk menjaga lingkungan adalah merawat peralatan kita dan menggunakannya dengan benar sehingga refrigerant tahan lama -tidak perlu ganti freon- dan tidak terjadi kebocoran.

*berdasarkan kuliah Pengukuran dan Catu Daya oleh Porman Pangaribuan, Selasa, 22 Desember ’09*

[indira]

Interview with Moi – Memakanai Pendidikan

Ini hasil wawancara saya dengan presma dan dosen Mikroprosesor dan Antarmuka di kampus saya dalam rangka bulan pendidikan. Idenya adalah memaknai pendidikan dari berbagai sudut pandang, sebuah essay yang mengkritisasi pendidikan kita, diikuti dengan reportase hasil wawancara mengenai makna pendidikan bagi si pelaku pendidikan itu sendiri. Tadinya mau wawancarain pihak rektorat juga, tapi kepepet waktu T,T

Wawancara dengan pak Agus Virgono sendiri sangat contentful . . Nantinya saya ingin membuat hasil wawancara ini ke format yang lebih santai. Hehe, tapi nantilah, kalau sempat ;p Sekarang yang versi padat nya aja ya . .

*) Buat yang kuliah di ITTelkom, selengkapnya bisa di baca di rubrik FOKUS terbitan kampus PODIUM edisi Mei

Wawancara dengan Kak Hanif – Ketua BEM KBM ITTelkom 2009

Apa makna pendidikan menurut anda?

Pendidikan itu adalah pembentukan karakter dan pembangunan kompetensi serta sarana memperluas wawasan. Bagi mahasiswa, hal ini tercermin dalam tri darma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Sudahkah pendidikan kita saat ini memenuhi makna pendidikan yang anda jabarkan diatas?

Instrumen pendidikan di Indonesia belum bisa menghasilkan outputan-outputan yang berkarakter. Masih tidak dapat dibedakan karakter lulusan SMP dan SMA, seperti dari segi pola pikir dan sebagainya. Sekolah dan kampus sepertinya lebih memfokuskan kepada penyampain materi. Pendidikan kita masih membenahi ditingkat teknis, belum kepada karakter. Instrumen pendidikannya itu sendiri dalam hal ini yang harus lebih fokus kepada pembentukan karakter anak didiknya. Apabila pendidikan terlalu fokus pada penyampaian materi maka outputannya nanti akan berupa orang-orang yang apatis.

Pendidikan di Indonesia sendiri bagaimana pada saat ini?

Pendidikan di Indonesia masih memprihatinkan. Ada banyak faktor yang menyebabkannya, diantaranya sarana dan prasarana. Kemudian pendidikan kita juga masih sangat general. Tidak seperti sistem pendidikan barat yang sudah memfokuskan materi dari mulai jenjang yang sangat awal. Untuk membentuk orang-orang yang profesional seharusnya sudah diarahkan dari awal, tidak bisa instan dalam 4 tahun, misalnya. Sebab ini terkait dengan pembentukan karakter. Bagaimana sih karakter seorang pengacara, seorang teknokrat, untuk inilah diperlukannya penspesifikasian sejak awal. Sekali lagi untuk pembentukan karakter.

Bagaimana pandangan anda tentang mahasiswa yang lebih menanggap kuliah sebatas kewajiban dan lebih fokus kepada nilai ketimbang pembentukan karakter?

Itu adalah frame berpikir yang salah. Ilmu disini tidak diukur dari seberapa besar IPnya, tapi dari bagaimana dia bisa mengimplementasikan apa yang sudah dia dapat.

Harapan bagi pendidikan Indonesia kedepannya?

Harapannya adalah pendidikan kita bisa menyentuh semua elemen masyarakat. Pemerintah harus bisa menjalankan apa yang menjadi amanah UUD ’45 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Bangsa disini berarti meliputi semua orang, entah itu kaya atau miskin. Kemudian agar pendidikan itu bukan hanya sebatas pengguguran kewajiban, sekedar transfer materi saja, namun harus benar-benar secara menyeluruh memantau anak didiknya agar dapat menjadi orang yang berguna bagi bangsa ini. Dan ini merupakan tugas dan tanggung jawab kita bersama.

Wawancara dengan Pak Agus Virgono – Dosen Mikroprosesor dan Antarmuka IT Telkom

Makna pendidikan?

Secara luas, pendidikan adalah proses yang membuat kita menjadi manusia. Pendidikan, baik diluar maupun didalam kelas, membuat kita tahu apa tugas kita sebagai manusia. Dalam arti sempit, pendidikan adalah cara manusia untuk bisa survive. Cara agar kita lebih kompetitif. Maka beruntunglah orang yang bisa mendapatkan pendidikan. Sangat disayangkan pendidkan kita tidak bisa mencapai semua lapisan, lebih disayangkan lagi adalah orang-orang yang mendapat kesempatan tidak memanfaatkannya dengan baik.

Makna mendidik?

Bagi saya dalam rangka luas mendidik adalah menjalankan amanah yang diamanahkan pada saya. Sedang dalam rangka yang lebih sempit, mendidik itu bagi saya adalah ikut membangun bangsa. Dengan mendidik suatu saat saya berharap kedepannya akan lebih maju, lebih terarah. Dan mendidik itu adalah proses yang integratif. Tidak bisa hanya didalam kelas, tapi juga diluar kelas. Kalau dalam bahasa GBHN, mendidik manusia seutuhnya.

Tidak semua dosen berpikiran ttg pendidikan yg terintegrasi seperti yang bapak kemukakan, apa pendapat bapak ttg dosen seperti itu?

Memang banyak dosen yang seperti itu. Ada yang takut mengambil resiko tidak populer. Ada dosen yang memang caranya halus, lebih mementingkan cara daripada tujuan, ada dosen yang memang pengecut. Kita tidak menyalahkan teman-teman (dosen-red) karena setiap orang punya watak masing-masing. Namun saya yakin semuanya punya tujuan yang sama, sebab tidak ada yang betah menjadi dosen kalau tidak berjiwa pendidik.

Bagaimana pendidikan Indonesia saat ini?

Pendidikan di Indonesia saat ini menuju ke arah yang salah. Pendidikan yang diberikan tidak sesuai dengan tingkatannya. Dahulu kurikulum pendidikan disusun oleh profesor, akibatnya materi pelajaran itu sesuai dengan umur. Sekarang materi SD saja sudah susah, sehingga akhirnya kamu mencari cara belajar dengan cara lain untuk mengimbangi itu, salah satunya dengan menghapal, sehingga pikiran kamu menjadi pragmatis.  Kamu dicekoki segala macam sampai kamu jenuh, akibatnya ketika kuliah kamu tidak siap menerima ilmu baru.

Siapapun sekarang boleh membuat buku, karena pendidikan sekarang sudah jadi bisnis. Akibatnya buku-buku pelajaran materinya menjadi susah, sebab berisi apa yang si penulis tahu. Sementara intinya mendidik adalah bukan menerangkan apa yang saya tahu, tapi apa yang kira-kira bakal kamu bisa. Secara prinsip tidak salah juga, sebab Indonesia rakyatnya banyak, sehingga peluang bisnis harus dibuka selebar-lebarnya. Namun seharusnya ada supervisor yang mengawasi sehingga tidak terjadi hal seperti ini.

Harapan kedepan?

Saya sih inginnya pendidikan disesuaikan sama psikologis anak. Kalau memang masanya bermain ya bermain saja. Tidak boleh pendidikan untuk usia dewasa kita paksakan ke remaja, tidak akan masuk. Akibatnya nanti sifatnya menjadi pragmatis. Kemudian memasang target juga diikuti dengan perbaikan proses pembelajaran, kalau tidak percuma. Tidak bisa kita mematok outputnya saja, lebih baik prosesnya yang diperbaiki, nantinya outputnya akan mengikuti.

(reported by Indira)

Aliansi Mahasiswa

Essay ini saya buat untuk diserahkan sebagai syarat pendaftaran BEM KBM IT Telkom. Waktu itu saya mendaftar di Departemen Luar Negeri dan diterima sebagai staff Dirjen Aksi dan Propaganda, kabinet Sahabat Terindah. Essay ini dibuat dengan membaca cepat beberapa artikel, menggabungkan ide-ide tersebut dengan pandangan saya sendiri. Sekali lagi masih awam, hehe, mudah-mudahan isinya bermanfaat. :)

nDy, Si aktiVis dEmOooAliansi Mahasiswa

Pergerakan mahasiswa sudah lama eksis di Indonesia. Sebagian besar pergerakan mahasiswa telah menjadi cikal bakal perjuangan nasional. Aliansi-aliansi mahasiswa sejak zaman dahulu telah berhasil menjadi motor penggerak revolusi. Dari mulai merebut kemerdekaan, hingga menjatuhkan rezim Suharto, yang pada awal kenaikan rezimnya sudah menumbalkan ratusan ribu nyawa. Eksistensi mahasiswa ini menjadi sangat penting, sebab pergerakannya hampir selalu mengusung kepentingan rakyat. Menurut Bung Hatta, perguruan tinggi adalah Republik Berfikir Bebas, dengan mahasiswa sebagai rakyat negerinya. Melarang pergerakan mahasiswa sama saja melarang rakyat mengekspresikan aspirasinya. Mahasiswa adalah rakyat. Lebih dari itu, mahasiswa adalah pejuang rakyat dan rakyat pejuang. Sudah menjadi tugas dan tanggung jawab mahasiswalah selaku kaum intelektual bangsa untuk menjalankan fungsi kontrol sosialnya, untuk ikut terlibat secara aktif dalam menciptakan skenario-skenario perubahan bangsa dan negara menuju ke arah yang lebih baik.

Sayangnya, pergerakan mahasiswa yang sekarang tidak se-solid dahulu. Banyak langkah-langkah yang diambil hanya untuk menonjolkan eksistensi kampusnya masing-masing. Terlebih lagi, banyak aksi-aksi anarkis atau cenderung anarkis yang dilakukan atas nama rakyat. Mahasiswa seharusnya berpihak pada rakyat. Dan aksi anarkis tidak mencerminkan keberpihakan mahasiswa pada rakyat. Pengetahuan ilmiah tanpa didukung oleh tingkah laku sama saja nol besar. Pada dasarnya untuk itulah dibentuk organisasi kemahasiswaan, untuk mengembangkan karakter dan sebagai upaya pencerdasan. Mahasiswa seharusnya meninjau kembali tujuan awal dan esensi dari pergerakannya, yakni untuk mengedepankan mahasiswa dalam pergerakan nasional. Untuk itu,  mahasiswa harus sinergis dan efektif dalam langkahnya.

Dan salah satu cara untuk mengefektifkan pergerakan mahasiswa adalah dengan membentuk aliansi kemahasiswaan. Aliasi yang dimaksud disini adalah kerjasama yang konstruktif antara dua atau lebih organisasi mahasiswa. Dengan membangun kesadaran utuh semua elemen-elemennya, mahasiswa bersama-sama melakukan satu gerakan sinergis yang mengusung isu bersama, dan beratas namakan rakyat. Dengan adanya aliansi kemahasiswaan, mahasiswa menjadi lebih mudah menyatukan barisan sebagai respon dari berbagai isu-isu eksternal kampus. Aliansi kemahasiswaan akan menjadi bentuk kontribusi nyata mahasiswa kepada rakyat dalam menjawab tantangan pergerakan zaman.

Aliansi mahasiswa sangat penting dalam membangun kebersamaan dan solidaritas, sehingga pergerakan mahasiswa menjadi solid dan terfokus pada hal-hal positif. Bentrok antar mahasiswa pun dapat dihindari.(indira)

Kebebasan Pers

“Setiap orang mempunyai hak untuk menyatakan gagasan dan pendapatnya; hak ini mencakup hak untuk mempunyai pendapat tanpa adanya campur tangan dan hak untuk mencari, menerima, membagikan informasi serta ide-ide melalui media apapun serta tanpa memperhatikan adanya perbatasan.”
 
Pasal 19, “Universal Declaration of Human Right”
Musyawarah PBB, 10 Desember 1948, Resolusi 217A(III)

Kebebasan pers adalah salah satu produk dari demokrasi. Peranan pers dan media dalam rincian “tugas-tugas pers” salah satunya adalah memenuhi hak masyarakat untuk tahu. Dalam perang merebut kemerdekaan pun pers berperan penting dalam menggalang persatuan dan menyebar-luaskan berita penting, termasuk Proklamasi Kemerdekaan RI itu sendiri. Di masa itu meskipun kebebasan pers sangat dikekang, namun para kaum intelektual tetap menyuarakan paham dan protes mereka melalui media-media yang ada, dari zaman kolonial Belanda hingga zaman kedudukan Jepang. Kemudian pada masa rezim Soeharto, yang tonggaknya didirikan diatas genangan darah ratusan ribu penganut paham komunis (atau yang “dituduh” sebagai penganut paham komunis, karena mereka yang dibunuh tidak diadili terlebih dahulu) kebebasan pers juga dikebiri habis-habisan. Pers dijadikan alat pemerintah untuk mobilisasi massa, hanya menyiarkan berita yang menguntungkan pihak-pihak tertentu, serta dilarang keras menyebar-luaskan kebusukan pemerintahan Orde Baru. Banyak para “Pejuang Pena” yang dipenjarakan, di cekal, atau “dilenyapkan” pada masa itu. Sebut saja Pramoedya Ananta Toer, yang dipenjara karena karya-karyanya yang dianggap berbahaya bagi rezim Soeharto. Bahkan Iwan Fals pun pernah dipenjarakan karena lagu-lagunya yang dianggap kontroversial. Kita perhatikan berkali-kali pers kita berada dalam masa-masa suram. Dari masa ke masa masyarakat diseluruh dunia memperjuangkan haknya untuk berpendapat. Pertanyaannya sekarang adalah: Sudahkah pers kita merdeka, lepas dari campur tangan seperti yang tercantum dalam “Deklarasi Universal atas HAM” diatas?

Kenyataannya, dari dulu hingga sekarang pers tetap berada dibawah bayang-bayang, entah itu pemerintahan atau kelompok-kelompok tertentu. Pers dijadikan alat penyebar doktrin, menyebarkan hipotesa-hipotesa yang oleh pihak-pihak tertentu ingin agar dipercaya oleh masyarakat. Sebut saja kematian Lady Diana, John F Kennedy, Abraham Lincoln, Paus Johannes Paulus I, Pangeran Franz Ferdinand dan Istrinya (yang kematiannya merupakan pemicu perang dunia) dan tokoh-tokoh dunia lainnya yang kematiannya begitu misterius sehingga mungkin tidak akan terungkap sampai kapanpun. Dan kelompok-kelompok dibalik konspirasi ini membuat skenario untuk masing-masing peristiwa yang disebarkan melalui media agar masyarakat percaya. Hal ini pula lah yang terus menerus dicoba untuk diungkap oleh orang-orang yang mengerti, bahwa pers kita sekarang ini belumlah sepenuhnya lepas dari intervensi “sang penguasa”. Baik melalui buku-buku, essay, maupun tersisip sedikit-sedikit dalam novel, cerpen, bahkan komik. Misalnya saja dalam Novel Fiksi Harry Potter karya J.K.Rowling, digambarkan bagaimana Kementrian Sihir mengandalkan “Daily Prophet” untuk mengatur opini publik dan menyembunyikan kenyataan yang sesungguhnya dari masyarakat. Juga dalam komik 20th Century Boy karangan Urasawa Naoki, digambarkan bagaimana fakta dari sebuah tragedi luar biasa besar diputar-balikkan melalui media demi mengusung kepentingan kelompok tertentu. Atau dalam karya-karya yang lebih kompleks, misalnya dalam buku “The Secret World Government” yang diterbitkan oleh wartawan Inggris yang memuat seratus peristiwa historis di dunia, atau buku “The Hidden Hand” yang pernah diterbitkan oleh seorang Gubernur Skandinavia yang bernama Cherep Spiridovich (yang tewas secara misterius sebelum sempat menyebar-luaskan karyanya secara utuh dan sempurna, diduga kematiannya akibat racun gas yang terhirup-menurut versi The New York Times edisi 23 Oktober 1926). Sayangnya perlawanan media tidak cukup kuat untuk melepaskan media dari intervensi pihak luar dalam pembentukannya.

Menurut penulis, penyebab hal diatas adalah karena pihak pers dan media yang bersangkutan memiliki banyak kepentingan yang dapat dengan mudah ditekan oleh kelompok-kelompok tertentu. Oleh karena itu, kita sebagai mahasiswa, sebagai masyarakat jurnalistik yang kepentingannya masih terbatas pada aspek-aspek tertentulah yang harus membuka suara. Kemukakan pendapat kita sendiri, gali pikiran kritis kita, kuak semua kebusukan-kebusukan terselubung yang ada, selagi idealisme kita masih menggebu-gebu, selagi semua yang menghalangi jalan kita masih kita anggap debu, dobrak media dengan fakta! Katakan “Kami muak di doktrinasi!”. Wujudkan media yang lepas dari intervensi, benar-benar mengusung kepentingan masyarakat luas, dan tajam menghujam ke tiap-tiap kejadian yang melanda dunia. Penulis berharap dapat menjadi bagian dari hal tersebut dengan bergabung dalam masyarakat jurnalis ini. Semoga demokrasi hakiki yang kita idamkan dapat tercapai, dimana media massa dapat benar-benar menjalankan fungsinya.(Indira)

*

Ini adalah tulisan yang saya buat untuk memenuhi persyaratan waktu mau melamar di Masyarakat Jurnalistik IT Telkom, haha, jadi bisa dibilang karya amatir lah. Mengarang cepat, gak pake riset, yang kepikiran di otak aja, haks, well, namanya juga ngejar deadline, eh?

Saya ngebuatnya sambil mengingat-ingat buku-buku yang pernah saya baca, komik, novel, apapun deh yang terlintas. Diantaranya “The Lady Di Conspirasi”, “20 Mass Killers of 21th Century”, “100 Orang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah Indonesia”, “Harry Potter”, sampai komik “20th Century Boy”, haks, pretty shallow, eh? Namanya juga amatiiiir…

Kalau ada data yang salah, kalimat yang tidak tepat, maaf maaf aja yaa.. but just like what Richard Bach said :

“A profesional writer is an amateur who didn’t quit”