Chasing Pavements


*Tarik nafas, buang*

Okay..

I think I need to write this, to myself, for myself.

Jadi… hh… hari ini, adalah pertama kalinya gue nangis karena kerjaan.

Nangis. karena. kerjaan.

I know, right? Sounds so fucked up.

I think I need to write this down. For the older me. So that she knows what kind of person she was, how dramatic she used to be, how persistent she is to the point of being annoying, how.. I don’t know deh. Maybe the older me will know better, maybe she can analyze her old self more accurately, because I think what happen today shows my character, what kind of person I am, meskipun gue yang sekarang belom tau entah apa itu.

Where do I begin?

Okay. So I become a PM on this project. This one very particular project.

Background first.

Project ini gue handle dari fase-1, back then on 2014. Back then, sub-directorate gue, IT Planning, masih memegang fungsi sebagai PM. Setahun setelahnya, IT Planning tidak lagi bertugas sebagai PM project. PM project dipindahkan fungsinya ke team executor, bukan di team planning lagi. Kita sebut team executor ini sebagai Tower (bukan, bukan Tower kaya BTS gitu. Tower adalah made-up word kita buat menyebut team developer yang sudah di merge dengan team operation). Di tahun kedua, project ini terus melakukan ekspansi hingga ke fase-2. Pada fase-2, team Tower yang seharusnya menjadi PM project ini kebetulan baru terbentuk, organisasinya masih muda. Jadilah project ini ditumpangkan lagi ke kita. OK no problem, kita kerjain. Di tahun ke-3, manager gue yang tadinya bersama sama menghandle project ini pindah ke divisi lain, GM gue pindah ke group lain, tapi masih sama sama di subdir IT Planning. Dan di tahun ke-3 ini project ini kembali melakukan ekspansi, fase-3. Dan, lagi lagi, gue, dan manager gue, yang notabene sudah tidak lagi sesuai untuk dijadikan PM karena sudah beda divisi dan tidak sesuai role kami, ditugaskan jadi PM. For god sake, bahkan bos gue sudah bukan bos gue lagi, GM gue sudah bukan GM gue lagi. Gue udah punya manager baru dan GM baru, tapi masih disuruh ngerjain ini project yang dibawah manager lama gue dan GM lama gue. Tapi ya okelah, isn’t that always the case? Namanya project emang suka malah nempel ke personal, ke orangnya, bukan ke jabatannya.

Dan sampailah kita di hari ini. Saat ini project ini sudah berada di fase-4. Dan tebak, bahkan 3 tahun setelah beralih dari fungsi PM, tugas PM lagi lagi dipercayakan ke gue. Yah oke lah. Tidak apa apa. Meskipun udah mulai risih. Some people are whispering behind my back. Kenapa elo? Kenapa bukan si anu? Emang kenapa? Wah ada apa apanya emang? So on so forth. Tapi, ya sudahlah. Bukan itu inti cerita gue.

Now, about this project..

Project ini adalah project yang cukup ribet. Project ini adalah sebuah aplikasi IT. Tugas aplikasi ini? Mengambil traffic network (for you who are more into technical: lebih tepatnya, mengambil traffic Gn) untuk kemudian dijadikan insight business. Fungsinya luas banget, hasil insight dari project ini, bisa untuk fraud management, customer care insight, monitoring business and anything related to Big Data Analytics. Yes, Big Data Analytics,  yang lagi hype banget itu loh.

Di fase-4, fungsinya semakin meluas, bukan cuma dipake buat analisa business aja, tapi mau dipake juga untuk network performance monitoring untuk service Broadband, terutama yang 4G LTE. Secara 2015 kita sudah selesai deploy 4G, pengen dong di monitoring performancenya gimana. Biar ente ente yang yucuban enak internetannya. Jadi lah kita mengambil traffic network jenis lain (for you technical people: Traffic MME, s6u, etc)

In order to do this, kita harus memasang probing di berbagai network entity. Intinya gimana caranya biar traffic orang internetan bisa masuk di aplikasi kita supaya bisa dianalisis. Dan untuk melakukan ini harus kerja sama dengan rekan Network.

Project ini project yang bener bener whole package. Gue ngurusin dari mulai instalasi hardwarenya, sampai developing softwarenya. Bukan, bukan gue yang ngerjain. Instalasi ada engineer, software ada developernya. Fungsi gue PMing aja. And gosh, do I PMing so hard. Project ini buanyaaaaak bangettt melibatkan segala macam team. Dari team IT sampe team Network, sampai temen temen di area.

Duh kepanjangan ceritanya. Lanjut ke permasalahannya.

Awal mulanya..

Ada 22 site di berbagai kota di Indonesia yang harus dilakukan instalasi. Ada 3 team engineer. Masing masing instalasi dari laying cable, sampai selesai bisa di remote dari Jakarta sini nih, butuh waktu 3-5 hari. Di remote maksudnya, itu barang yang ada di berbagai daerah bisa diapa apain hanya dengan buka laptop dari Jakarta, tanpa harus didatangi fisiknya nun jauh disana. Artinya, dalam seminggu, gue bisa instalasi di 3 tempat saja, dengan resource 3 team engineer. Coba hitung, 22 dibagi 3 itu 7 sekian minggu. Padahal berdasarkan PO dengan vendor waktu pengerjaan cuma 7 minggu juga. Tight banget kan bok! Emang giling yang ngasi timeline. Gue akuin timeline emang ga make sense.

Dengan mengerahkan segala daya upaya, berhasil lah gue mengatur timeline instalasi sedemikian hingga bisa selesai dalam 5 setengah minggu. Masih ada satu setengah minggu untuk validasi traffic, nge-test functionality, dan deployment.

OK good.

Tapi, project ini hanya bisa tepat waktu jika dan hanya jika jadwal instalasi mingguan tidak ada yang meleset.

Dan disinilah masalah dimulai…

Minggu ini dijadwalkan untuk instalasi di 2 site, and on this very night, salah satu site tersebut harus sudah Power On.

Power On, oh Power On.

Apa sih Power On? Power On itu nyolokin hardware gue ke listrik, terus dinyalain. Serius, se simple itu (konsepnyaaa). Kaya lo baru beli kulkas, lo colokin ke listrik, nyala deh tuh, nah itu, power on itu kaya gitu. Tapi yaa.. yang kita omongin ini adalah sebuah gedung yang full of mesin. Pas lo nyalain mesin baru, ga boleh sampe listriknya jepret. Padahal mah instalasi listriknya juga udah pake no-break-system, yang kalo listrik PLN mati, catu dipindah ke batere sebelum genset nyala, jadi seamless. But still, Power On, listrik ga boleh mejret.

Gimana taunya listrik jangan mejret? Ada a bunch of team (a bunch, really, bukan cuma satu) yang ngurusin ini. Dari mulai ngitungin kebutuhan daya, panas disipasi yang dihasilkan mesin berapa, AC ruangannya cukup ga mendinginkan panas disipasi itu biar mesin lain ga ikutan panas, so on so forth. Soalnya kalo gara gara lo nyalain satu mesin baru mesin lain jadi kenapa napa, lo lo pada bisa ga bisa kirim SMS lah, ga bisa ngecek pulsa lah, ga bisa isi pulsa, dan lain sebagainya. Soalnya semua mesin yang handle itu semua tadi letaknya bareng di gedung itu. Gitu.

Tapii…

Sebenernya mah sebelum dipasang itu semua udah diantisipasi, diitung, diassess dan lain lain. Possibilitynya kecil. Tapi tetep aja, the moment engineer lapangan gue nyolokin tuh hardware ke listrik harus ada team yang standby in case terjadi apa apa.

Nah, salah satu hal yang gue harus lakukan adalah mengurus administrasi perijinan untuk melakukan pekerjaan ini. Disebutnya CRQ. Change Request.

Untuk prepare aktivitas malam ini, seharian gue ngurusin ini CRQ. Agak ribet, soalnya secara organisasi gue bukan orang yang bisa meng-create CRQ. Kaya yang gue bilang, gue udah ngerjain hal yang di luar fungsi, dan CRQ ini udah by system, ga bisa gue yang bikin. Mau ga mau harus minta tolong team lain.

I think I have done everything right..

Ada aja masalah, dari CRQ salah bikin lah, salah jadwal lah. Padahal infonya udah gue kasi sejelas mungkin. Sampe siang, itu CRQ baru ter-create, dan harus melewati approval bos bos.

PIC lapangan di area, yang empunya lapak, orang yang bertanggung jawab di gedung yang mau gue pasangin hardware, udah gelisah.Gimana nih, jadi ga activity malam ini? And I assure him, jadi, pasti jadi. I have called anywhere to ensure this CRQ can be done before 5 PM. One other thing, power on ini harus dilakukan tengah malam.

Disinilah kesalahan terbesar gue. Komunikasi gue sama PIC di lapangan ini ga gue lakukan secara personal. Entah lewat email, atau lewat engineer gue di lapangan yang udah standby. Salah satu alasannya karena gue nyambi. Gue harus nelfonin sana sini, kebetulan engineer gue juga chattingan terus saling berkabar, jadi gue sampein semua update ke engineer gue, yang nyampein ke dia. Belom lagi ada meeting dan ngerjain project lain juga, kaya yang gue bilang, ini bukan main jobdesc gue, tapi project ini dimata orang orang penting, harus put 100% effort sambil jaga kerjaan asli gue ga terganggu. But semua info nyampe kok, tapi emang pasti beda mungkin kalo gue menyampaikan secara personal. Alasan lainnya lagi, gue agak malas berhubungan sama orang ini. Soalnya dari awal agak ribet. Masalah report site survey dari engineer gue yang belom dilengkapi foto aja udah bikin hilang satu hari kerja karena dia ngotot itu harus beres dulu. Sebagai perbandingan, di site lain jarang ada yang minta report site survey, lebih ke make metode “Gimana, udah di survey? Ga ada masalah? OK lanjut!”. Kalopun minta ya bisa nyusul. Dan lagi, udah ada kok reportnya, cuma kurang dilengkapi foto aja. Menurut gue foto itu pelengkap, tanpa foto pun udah bisa lah di review reportnya. Kalo PIC site lain bahkan gue bisa minta tolong dia malah fotoin. Jadi emang gue agak males nelfon nih orang.

Setelah seharian gue mendesak berbagai orang, nelfon sana sini lalalala akhirnya CRQ selesai di jam 5 kurang. Dan tahukah anda? Dia bilang dia ga nyiapin orang buat support malam ini, karena baru ada kepastian di jam segitu.

I mean… gue udah bilang sama dia, pasti jadi, masalah CRQ, I’m on it. Karena gue udah dapat konfirmasi juga dari berbagai orang yang terlibat, gue yakin akan beres. Birokrasi penting, tapi ga segitunya sih. Kan udah di assure juga, dan ternyata bener toh, ternyata keluar kan CRQnya, beres. Gue berharap dia bilang teamnya untuk standby sambil gue beresin issue ini. Giliran udah beres, kan sayang kalo tetep ga bisa di eksekusi karena dia ga prepare in case issuenya beres. Hanya karena issue belom beres, dianggap ga jadi. Atuhlaah..

Gue bilang gitu ke dia, versi sopannya. Nada suara dia udah bete, gue juga udah bete, ditandai dengan penggunaan kata kata yang semakin lama semakin sopan. Iya, kalau di dunia kerja, kebetean itu ditandai dengan ngomong yang jadi semakin sopan dan kaku.

Tapi kayanya dia gamau kalah juga. Ga berapa lama dia kabarin gue engineer dia juga udah standby.

Ah OK lah, beres juga akhirnya. Jadi nih kayanya power on tengah malam ini. Gue mulai santai. Pesen makan sama temen temen gue yang juga overtime di kantor, haha hihi, liat liat video retnohening lah, apa lah.

Ga berapa lama, dia telfon lagi bilang CRQ gue belom lengkap approvalnya. Masih ada satu orang lagi yang harus approve.

What?? Kok bisa??

Dimulailah making phone calls excessively jilid 2 hari itu. Telfon kemana mana, kok bisa ada satu approval yang nyempil kayak gini. Jawaban yang gue dapat adalah, emang ga seharusnya si satu orang nyempil ini diinput sebagai approver. Maka pilihan gue ada dua, either gue kejar si orang nyempil ini agar segera approve CRQ gue, atau gue minta team yang bertanggung jawab di CRQ untuk hapus si orang nyempil dari list approver. Dua duanya gue kerjain paralel. Mana yang duluan deh. Apalah daya jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, semua orang slow response. Oh god! Stress menjadi jadi. Even so, gue masih ngerasa yakin gue bener. Ini orang memang ga seharusnya dimasukkan ke list approver, bahkan (spoiler alert) ketika akhirnya orang ini berhasil dihubungin untuk suruh approve, dia pun bingung kenapa dia ikut ikutan dijadikan approver. Hingga ini ditulis, gue belom dapat konfirmasi dari team CRQ kenapa kok bisa bisanya ada tambahan satu approver yang ga seharusnya ada. Mana gue ga bisa ngecek sendiri lagi kan status CRQ gue, kalo ga dikasi tau gue ga bisa tau. Anyway, water under the bridge lah, si orang nyempil udah approve juga, CRQ udah beres dan power on bisa kembali dilaksanakan.

Tapi, rewind dikit..

Rewind dikit ke ketika si orang nyempil belom approve CRQ gue. Waktu gue lagi panik nelfonin dan eskalasi sana sini, si PIC area nyebelin ini nelfon gue, waktu gue angkat gue abis makan sama temen temen gue di kantor dan masih duduk bareng mereka. Long story short, yah intinya dia bertanya gimana nih, gue bilang apa adanya, ini orang nyempil ga seharusnya ada di approver, but however gue sedang usahakan agar aktivitas malam ini tetep bisa terlaksana, please wait sampe gue bisa beresin isu ini. Dia mulai kesal. Dia bilang begini begitu lalalalalalala. Aslinya gue udah capek, asli. Gue udah usaha semaksimal mungkin, dan seperti teori printer, disitu lo mau ngeprint, hal yang seharusnya 3 kali klik selesai, selalu adaaaaaa aja issue, ya tinta bocor lah, paper jam, apalah apalah justru ketika lo lagi butuh butuhnya. Dalam hal ini, engineer gue lupa foto hardwarenya lah, team gue salah submit CRQ lah, team CRQ salah masukin list approver lah. I have done anything on my power, I’m ready to give up. Gue bilang sama dia, yasudah kalo memang ga bisa banget malam ini, kita pending ke besok. Dan dia ngomong gini ke gue, intinya, lain kali tolong yang seperti ini di monitor, jangan sampai seperti ini lagi, team lapangan sudah standby malah ga jadi, padahal tadi sore mba yang ngepush buat tetap malam ini. Gue bisa merasakan pipi gue memerah dan air mata mulai ngambeng. No no don’t cry right now, I told my self. Aduh bukan saya ga monitor Mas. Shit happens. Dan itupun masih fixable (meskipun gue udah ga seyakin sore tadi), andai dirimu mau menunggu sedikiit lagi sembari kuusahakan this shit to be taken care of. Tapi itu hanya gue ucapkan di dalam hati, yang keluar dari mulut gue cuma kata kata maaf ke dia.

Tutup telfon. Permisi sama temen temen gue. Cari tempat sepi. Dan tumpahlah semua air mata.

I know I’m wrong. Kalo gue jadi dia, gue pun akan kesal, asli. Tapi, I’m not doing this for myself. Ngapain sih gue bela belain sampe segininya supaya aktivitas ini bisa selesai malam ini juga? Bukan buat gue! Buat perusahaan ini, perusahaan kita, Mas. (lebay)

Setelah semua orang yang gue push tadi siang, yang gue recokin, yang gue telfonin bolak balik, ternyata tetep ga bisa juga. GAK.BI.SA. I feel like shit. I can’t deliver. I can’t live up to my own expectation. I really really feel like shit. Semua effort orang orang yang gue push tadi siang, semua percuma. And it’s all because of you and your incapable ass!

Rasa bersalah dan rasa malu memuncak. Entahlah. Gue juga gatau kenapa gue nangis. It’s just a job, right? Go home and watch some Korean drama!

Gue mulai menangis sejadi-jadinya. Ga bisa berhenti. Gue mulai mempertanyakan semua keputusan yang gue buat seharian ini. Apa harusnya dari issue pertama tadi gue nyerah aja dan reschedule pekerjaan ini ke besok. Meskipun kalau geser besok, karena satu dan lain hal, project ini bukan hanya delay sehari tapi jadi seminggu. Okelah delay bukan sehari tapi seminggu. So what? Emang perusahaan bakal bangkrut? Emang gue bakal dipecat? Emang penilaian performance kerja gue akan jadi jelek? Apa bonus gue berkurang? Apa bos gue bakal marah? ENGGA! Terus kenapa Ndi, kenapa lo sampe segini kekeuhnya? Segini keras kepalanya? Emang bener lo ngelakuin ini semua for the sake of project? Jangan jangan it’s just your selfish ambition! You and your fvcking perfectionist ass! You and your shitty ability to accept lost and failure. You and your itch to scratch just one more to-do-list. You, you! Kenapa lo ga tau where to stop, self, kenapa?! Maybe I am a bad person, I’m  90% sure I am a bad person with horrible attitude. How can I live my life like this, don’t know where to stop. Lebay, I know. Seharian ini gue emang super emotional, mungkin mau dapet, whatever. Tapi seriously, things like that yang running around my head. Si anjir goblok, gue yakin banyak orang yang kesel sama gue hari ini hanya karena gue maksain supaya tetep bisa Power On malam ini.

Sebenernya ini bukan pertama kalinya gue ambi begini. Kaya kalo gue bikin report atau presentasi atau apalah, gue selalu tripple check, ada yang rancu satu, cek dari awal, I make sure things are perfect the way the suppose to be. Kadang kalo jam 12 malam gue masih kerja gue suka bertanya tanya, ngapain sih lo sampe segininya, sambung besok juga masih gapapa. But I just couldn’t stop. Mungkin karena honestly from the deepest of my heart, I do love my job, I love what I’m doing. How many people can say that about their job, kan? Atau maybe I’m just a fvcking prick. Cuma biasanya ga pernah sampe nangis nangis begini, karena yang gue korbankan adalah waktu tidur gue, waktu main gue, dan lain lain. Kali ini gue mengorbankan banyak orang lain, dan itu semua sia-sia. I can’t deal with that fact. I feel like shit, and I don’t like feeling like shit.

Mungkin selama ini gue halu, gue pikir gue orang yang berdedikasi dan capable, padahal mungkin gue cuma orang yang super nyebelin aja. Ditambah segala macam orang yang suka muji muji gue di depan gue, makin halu aja gue. Padahal di belakang gue kali mereka ngatain gue nyebelin dan cuma mau kiss ass, who knows.

Setengah jam ada kali gue nangis. Mata gue udah sepet. Tissue gue udah abis. Kepala gue udah sakit banget kaya mau pecah.

Tiba tiba dapat kabar CRQ gue udah di approve dan aktivitas bisa berjalan malam ini. Jam menunjukkan pukul 9:34 PM.

As of now, 12.18 AM, engineer gue lagi melaksanakan power on. Gue lagi duduk di kantor yang udah sepi, standby, menunggu kabar in case ada issue lain.

Ya ampun terlaksana juga. So it’s not all goes in vain.

Do I feel happy? No. But at least I don’t feel as shitty as before.

Tetap saja, semua pikir yang muncul tadi pas nangis nangis mengganggu. I ponder of this big flaws in my character. Until this very second I wrote this, gue masih belom tau am I a bad person or not? That’s why I wrote this, I think I have to get back at this someday. I think I have to read this again and ponder of what kind of person I am, and what kind of person I want to become.

But for now, enough pondering. I’m tired now. So very very tired.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s