Baikan sama Tuhan


Buat temen temen deket gue, pasti udah sampe MUAK kali dicurhatin tentang Y. Gue udah melewati segala fase lah patah hati sama dia. Dari sok religius, kesal, marah, sedih, benci, dendam, mengasihani diri sendiri, mati rasa, rindu, sakit hati, merusak diri sendiri, bahkan menyakiti orang lain. SEMUA deh. Dan fasenya itu kayak ga ada abisnya, udah sampe fase ini balik lagi fase itu. Lah? Gue pikir mati rasa itu fase terakhir dari patah hati. Apaan. Udah mati rasa kok gue balik nangis nangis lagi. Udah nangis nangis kok ya balik kesel lagi. Udah kesel ndilalah balik balik lagi mengasihani diri sendiri. Gituuuuu aja terus ga abis abis. Tanpa gue sadari udah hampir setahun gue patah hati.

Patah hati tidak pernah seganas ini. Then again, gue belum pernah juga sesayang ini sama orang lain selain diri gue sendiri.

Awalnya gue bersyukur akan kejadian itu. Sejujurnya udah lama hati ini meragu. Bermacam macam doa sudah dipanjatkan tapi tak kunjung dijawab. Sampai akhirnya, JDER, tanpa angin tanpa hujan terjadilah kejadian itu. Bersyukur. Kenapa? Akhirnya doa gue dijawab. Dijabah. Mungkin memang ini jalannya. Mungkin memang harus gini endingnya. Ya sudah, mencoba ikhlas.

Tapi, ya Allah, kok ya lama banget. Lama sekali sakitnya ga hilang hilang. Sakitnya ga berenti berenti. Ga ada sebulan yang lalu gue masih SMS dia ngomong kangen. Ga pernah dibalas. Sumpah serapah, doa doa, mohon mohon, maki maki, segala jurus lah gue lakuin. Gengsi udah lama dibuang ke tong sampah. Ga pernah dibales.

He quits me cold turkey. Just like that. In a snap of fingers, he’s gone. I watched him walk away and never even looking back at me. Not even once. Gue disini berdarah darah. Sakit setengah mati. I can’t explain. SETENGAH MATI AS IN SETENGAH MATI. I wasn’t ready. I wasn’t prepared.

Sampai pada titik gue merasa, ya Allah, kalo tau sesakit ini jawaban doa, mending ga usah doa sekalian.

Dan gue pun mulai meninggalkan shalat. Bukan karena lupa. Bukan karena malas. Tapi karena sengaja.

Mungkin bukan ngambek ya, apa ya yang tepat menggambarkan ini. Gue takut berdoa. Takut dikabulkan. Gue jadi berhati hati memilah apa yang gue pinta. Y itu adalah jawaban doa. Begitu sesuai sama apa yang gue minta sampai kadang I can’t believe how lucky I was. Namun lagi lagi, perpisahan gue sama dia pun adalah jawaban doa. Gue harus doa apa yang “aman”? Gue ga tau mau minta apa, sampai akhirnya gue berhenti mencoba minta sama Tuhan.

Sampai akhirnya dia datang. Out of no where. Tiba tiba aja. Ga tiba tiba juga sih sebenernya. Waktu gue masih sama Y, dia sempet juga ngedeketin. Tapi ya kayak ga niat. Entah ga niat, entah emang kurang “ahli”. Gue pikir ini orang iseng aja kali. Terus baru belakangan ini dia mulai ngedeketin gue lagi.

To be honest gue ga terlalu interest sebenernya. Bukan tipe gue. Beda 180 derajat. Baik sama gue, maupun sama Y. Dia sangat lempeng, sederhana, dan baik agamanya, ga kayak gue yang masih carut marut. Sampai ada omongan dia yang membuat gue terdiam sejenak. Mungkin dia ngomongnya biasa aja ya, bukan sarat makna apa gimana. Tapi di gue cukup ngena sih. Dia bilang: “Kamu sama aku aja. Jalan sama aku aja. Ke depan. Lupain yang di belakang”.

Gue malu mengakui, gue nangis baca ini. Mewek. Mbrebes Mili.

Jalan. Ke depan. Lupain yang di belakang.

Gosh, God knows how long I’ve been trying to do that.

Gue ga ngerti kenapa dia ngomong gitu. Gue yakin dia ga tau kisah percintaan gue. Entah apa yang dia maksud ketika ngomong gitu. Yang pasti, di gue, kena, banget.

Of course I have my doubts, even until now.

Ini orang serius ga sih? – Serius kali ya? Pertama kali ngedeketin udah hampir setahun yang lalu. Sampe sekarang masih suka sama gue?

Tapi bukan tipe gue – Please deh. Lo udah pernah kan dapet yang tipe lo? Liat jadinya kayak apa?

Tapi beda banget gitu, pasti gue ga bisa jadi diri gue sendiri kalo sama dia – Gini ya, kayak “diri lo sendiri” itu udah baik aja deh. Ga ada salahnya kan kalau malah berubah jadi lebih baik?

Tapi gue engga sayaaangg – Yaelah, mana ada sih yang baru pacaran langsung sayang?

Kok bisa sih dia naksir gue? Kenapa dia ga naksir yang lebih alim? – Untuk yang ini gue pernah singgung sama dia, kenapa ga cari yang agamanya lebih baik aja. Dia lantas ngomong gini “Ya kamu dibaikin lah. Jangan suka pulang malem. Pelan pelan diperbaiki”, dan gue jawab dengan “Inggih. Long way to go, Mas. Mas yang sabar ya.”, dan dijawab dengan “Indi udah baik kok. Tapi kan baik aja ga cukup. Harus makin baik terus. Jadi ya pelan pelan saling memperbaiki nanti.. Aku juga sama.” Dan cengok lah gue ngedenger jawabannya dia.

Adalah pada tanggal 15 Maret, hanya selang beberapa menit dari jam 12 malam, ketika gue akhirnya memutuskan untuk, well, “coba jalanin”. Yang udah denger cerita gue ribuan kali pasti tergelitik denger tanggal itu ya. Yap. Pada puncak ke-vulnerable-an gue, gue memutuskan untuk menyerah. Menyerah pada ajakan dia. Menyerah pada kebodohan gue yang begitu gigih memegang rasa sakit hati itu terus menerus. Menyerah pada kenyataan bahwa gue.. memang sudah waktunya harus menyerah. Sudah waktunya melepas Y. Bukan hanya melepas orangnya, tapi juga bayang bayangnya, sisa perasaannya. Semuanya.

Maybe it’s time to let go.

Termasuk let go kengambekan gue sama Tuhan. Bukan karena harga iman gue cuma sebatas seorang pacar. Tapi gue amaze betapa Dia masih take care gue bahkan setelah gue kayak gini. Dia bahkan mengirimkan jalan bagi gue untuk bertaubat, menjadi lebih baik, setelah gue dengan kekanak kanakannya ngambek sama Dia.

Malu. Campur haru.

Gue ga tau apakah gue akan lama sama si Mas ini. Apakah dia yang akan menyembuhkan luka hati gue atau justru malah nambahin. Apakah dia jodoh gue, atau dia cuma numpang lewat sebulan dua bulan.

But those things are irrelevant right now. Gue, sudah baikan sama Tuhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s