The Simplest Dream


Simple dreams are the hardest to come true”

― Melina Marchetta on Looking for Alibrandi

Apa mimpimu, temanku?

Dulu aku ingin sekali menjadi lawyer dan berkecimpung di bidang hukum pidana, setelah membaca kisah Adnan Buyung Nasution sang pendiri YLBHI. Aku pernah pula ingin menjadi atlet renang ketika SMP, ketika aku rutin mengikuti les renang setiap sore. Setelah masuk sekolah teknik dan ikut UKM Masyarakat Jurnalistik, ingin pula aku menjadi Jurnalis, padahal jurusanku adalah teknik Telekomunikasi. Mimpi yang tak berarah tuju.

Setelah 2 tahun bekerja sebagai konsultan project management untuk proyek proyek Mobile Advertising di dua perusahaan Telco provider terbesar di Indonesia, aku bermimpi ingin bersertifikat PMP, menjadi PM di luar negeri untuk proyek proyek Mobile Advertising berskala dunia.

Kemudian aku ditawari posisi permanen di perusahaan Telco terbesar di Indonesia, yang hingga kini menjadi tempatku bekerja. Mimpi jadi PM tingkat dunia mulai surut meski masih ada. Kerjaan sudah enak dan nyaman. Bekerja di perusahaan besar itu zona nyaman tersendiri. Gaji biasa saja meskipun jumlahnya lumayan, banyak tunjangan, berbagai kebutuhan hidup ditanggung oleh perusahaan seperti kesehatan, bahkan makan pagi dan siang.

Mulai lagi jiwa pemimpiku yang muluk muluk. Adalah 4 orang teman teman terdekat pertamaku dari perusahaan tempatku bekerja pertama kali. Satu temanku, L, sedang mengikuti seleksi masuk BRTI waktu itu. Satunya lagi, D, pindah ke perusahaan Korea yang menjual solusi Mobile Advertising untuk Telco. Yang lain lagi, S, sudah pindah kerja ke anak perusahaan Telco yang bergerak dibidang E-Commerce. Temanku yang lain, M, bekerja di perusahaan Jepang yang menjual berbagai hardware untuk keperluan berbagai solusi perusahaan Telco.

Ku katakan waktu itu, “Kita berlima akan menjadi bos besar di industri Telco. Aku akan jadi direktur yang membawahi Mobile Advertising di Telco provider company ini. L, kau akan jadi petinggi BRTI, buatlah aturan yang tidak memberatkan industri new business Telco ini. D, kau akan menjual berbagai solusi untuk kubeli sementara M yang akan jadi vendor hardware kita. S bisa jadi partner kita untuk menghubungkan dengan merchant merchant e-commerce. Berlima kita kuasai dunia.”

Begitulah aku, sang pemimpi. “I wanna go down in history”, that’s what I used to say.

Setiap kali menuliskan mimpi dan cita citaku diatas kertas, entah itu untuk konseling pengarahan karir ketika akan lulus SMA atau mengisi kertas aplikasi lowongan kerja, selalu kutulis mimpi yang besar besar. Dulu aku suka menertawakan orang-orang yang menulis “Bahagia”, “Membanggakan orang tua” dan “Masuk surga” sebagai cita-cita. “Hah, itu bukan cita-cita!” pikirku waktu itu.

Little did I know what matter most in this world lies in the simplest things like that.

Bisa saja aku menjadi direktur di perusahaan ini. Doesn’t sounds too hard. Jalur karir jelas, tinggal kuikuti. Aku licik, lumayan lah, bisa saja kuikuti lika liku politik perusahaan ini. Tapi akankah aku bahagia jika itu semua tercapai? Aku bisa saja menjadi kaya raya, termashur, dan menjadi donatur berbagai yayasan sosial. Akankah itu membuatku masuk surga? Akankah orang tuaku bangga padaku jika malah kemudian aku tidak punya waktu untuk berbakti kepada mereka?

Happiness is a tricky thing. Happiness is the art of feeling content with whatever you had. And it’s not an easy thing, not at all. It takes a huge dose of being grateful.

Seiring bertambahnya umur, kusadari betapa kecil cita-citaku dan betapa tidak berartinya keberadaanku di dunia ini.

Pernahkah kalian bertanya-tanya, apa sih arti hidup ini?

Umurku 23 tahun, dan aku tidak tahu jawabannya.

Apakah aku menjadi bingung karena aku terlalu bertuhankan logika, seperti yang selalu diperingatkan ayahku? Apakah kalian diluar sana, terutama kelas menengah ngehe seperti diriku memiliki kebingungan yang sama? Apakah aku berpikiran seperti ini karena aku tengah membaca The Catcher in the Rye yang ternyata adalah catatan hati seorang remaja paling bingung yang pernah kubaca?

Entahlah. Kupaksa pun diri ini tetap aku tidak tahu jawabannya.

“Kebahagiaan adalah bisa beribadah kepada Tuhan tanpa mengganggu orang lain”

― Ustadz Yunani, dalam menjawab pertanyaan ayahku tentang kebahagiaan

Apakah orang taat diluar sana sudah menemukan ketenangan di dalam diri mereka? Apa benar mereka lebih bahagia?

Kalau kau tanya apa cita-citaku, mimpiku, harapanku, apa yang kuinginkan dalam hidup ini sekarang, saat ini?

Akan kujawab dengan ini:

“Aku ingin seorang suami yang baik dan setia, yang menyayangiku. Aku ingin dikaruniai anak anak yang sehat dan soleh yang mengagumiku. Aku ingin bisa tetap dekat dengan keluargaku setelah aku punya keluarga kecilku sendiri. Aku ingin terus bekerja di perusahaan ini, memberi kontribusi terbaikku, disukai oleh rekan rekan kerjaku dan tidak menyakiti hati orang orang disekitarku dengan perbuatan maupun perkataanku. Aku ingin bahagia dengan cara cara yang sederhana.”

Sekiranya Engkau, Tuhanku yang maha pengasih lagi penyayang, mendengar doa kecilku, sudilah memeluk harapan dan impianku ini.

Aamiin ya Robbal’alamin.

Ada amin, dear fellow readers?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s