Jakarta: The Getting Used


So, it’s been a week since I moved to this big city. So far so good. I’m still getting used to the concept. Weird as it is though, I’m trying hard to grab it. Masih berusaha menyesuaikan diri dengan jalan raya yang naik, turun, ngolong dan melingkar. Masih bingung karena mengambil sisi kiri suatu jalan bisa membuat lo nembus ke seberang jalan arah sebaliknya. Masih bingung dengan konsep makan di kelas warteg can charge you twenty thousand rupiah, atau bayar parkir seharga 32 ribu. Masih bingung menemukan ketika lo lebih nice ketimbang pekerja kelas bawah. Masih suka syok diklakson di gang, belokan, atau parking area. Masih bingung kok bisa kantor yang keliatan dari kosan berjarak 30 menit dengan mobil, atau bahwa U turn itu adanya dijarak berkilometer kemudian dan tersembunyi dikolong jalan. Bahwa semua orang kerja yang ngekos dikosan baru gue pulang langsung kekamar, ga ada lagi kongkow ala anak kuliahan diteras kosan. Bahwa ketika gue buka kamar ga ada anak kosan yang nyelonong masuk ngegeratak cemilan gue, yang ada cuma koridor sepi dan pintu tertutup. Masih asing dengan konsep “deket kok” tapi jarak tempuhnya sejam. Sisi baiknya, (atau jeleknya?) I’m getting more and more vicious each day. Sekarang gue lebih sering nglakson ketimbang diklakson. Kekejaman ibukota itu menular, Jendral!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s