Missed Call From The Past


Dalam satu sesi telepon kita berbagi. Selalu sama, malam hingga pagi. Berebutan berbicara, seakan bisa mengganti jeda bertahun-tahun lalu, ketika kau peluk aku terakhir kali. Semua ucapmu membuatku menginginkanmu, lagi dan lagi. Apa yang kau rasakan ketika mendengar ceritaku? Tawaku? Tidakkah kau ingin memelukku ketika aku terisak? Seperti aku memeluk diriku sendiri saat ini, menangkis dinginnya hawa malam di teras kosan sepi tempatku menyendiri. Kita tertawa lalu kita menangis. Selalu sama. Semua harap dan cinta yang seakan muncul lagi, semua kutelan, pahit dan kental. Sesungguhnya ketika kita sama-sama terdiam adalah dimana emosi terasa paling pekat. Apa yang kau pikirkan? Apakah itu aku, kita? Atau dia dan rasa bersalah? Aku takut, kau tau? Aku tau dan aku tidak peduli. Dan berjam-jam setelahnya aku akan dilanda kegalauan yang teramat sangat. Semua kenangan tentangmu, dorongan untuk kembali, menyentakmu dari tangan dia. Oh semua ini bagai penetrasi tanpa henti, aku merosot lemas, kalah lagi dan lagi. Ketika suaramu berubah menjadi sunyi dengan satu sentuhan tombol merah diponselku. Hari sudah pagi. Berapa jam sudah kita lewati dengan berbicara dari hati ke hati? 5? 8? Tidak cukup, tidak bahkan mendekati. Aku ingin kau dan tidak ada lagi. Dan aku menangis sejadi-jadinya. Dan ketika besok tiba, aku akan terdiam seakan tidak terjadi apa-apa. Mari kita ulangi lagi, kau bilang. Mungkin beberapa bulan lagi. Ketika ponsel ini berdering dan kita akan berbicara, tentang masa depan dan masa lalu. Yah, sampai ketemu di sesi telepon berikutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s