How Can You Sleep at Night?


Entah kenapa beberapa hari ini bahasan disekitar gue ga jauh-jauh dari kecelakaan. Dari mulai kemarin itu mergokin orang jatoh di Buah Batu, terus tweet-nya @infobdg yang bilang ada tabrak lari di Moh. Toha, sampe video tabrakannya Simoncelli.
Dan sore ini out of nowhere si Putra menyuruh gue menonton sebuah video yang menyakitkan hati (nurani). Sebuah hot thread di kaskus, yang bisa anda lihat disini. Why oh why kondisi kejiwaan gue yang sedang rapuh *tsah* malah dihadapkan dengan beginian.
Buat yang malas buka link-nya (atau yang merasa kejiwaannya sedang rapuh seperti gue dan ga mau melihat yang sadis-sadis), di video itu diliatin seorang anak kecil yang tertabrak truk angkut barang di pasar, mobil berhenti, dan kemudian jalan lagi dan melindas anak itu (lagi) dengan ban belakangnya. Selain ga ada yang peduli, beberapa saat kemudian datang lagi mobil lain yang melindas si anak. Boro-boro dipindahin malah dilindas dan dilewatin begitu aja kayak bangke tikus got. Yang paling bikin miris tangan si anak sempat gerak sedikit, dan ibu-ibu yang pertama kali ‘notice’ si anak malah dituduh cari popularitas.
Yang gue ga ngerti, mobil itu toh ga kenceng-kenceng amat, malah sempet berhenti beberapa meter sebelum akhirnya nabrak anak itu. How ignorance can you be, HUH?!
Di thread itu juga kita bisa baca komen-komen yang bilang bahwa kejadian ini bukan cuma sekali dan mereka udah ‘ga heran’ ini terjadi di China, dan banyak juga yang mendoakan semoga orang Indonesia ga akan pernah menjadi masyarakat yang ignorance seperti itu. Ini gue amini sepenuh hati. But truthfully? We will. Kalau melihat keadaan yang ada sekarang. Kecuali kita mau berubah.
Ayah seorang tante jauh gue tertabrak disebuah jalan besar sehabis pulang shalat. Mayat memang dipinggirkan, dan ya, tentunya ada kerumunan orang. Tapi toh tidak ada yang dilakukan yang sekiranya berguna. Sampe akhirnya seorang tetangga mengenali dan mengabari keluarganya. Malah kemudian diketahui dompet dan hp sang ayah tidak ditemukan. Hilang? Dicuri? Wallahualam.
Minggu pagi adik gue menyetir dari Binjai ke Medan untuk mengikuti try out. Ditengah jalan dia di stop oleh kerumunan masyarakat awam bercampur polisi. Ternyata ada tabrakan. Korban meninggal dunia dengan isi kepala berceceran di jalan. Dari ceritanya, dia diminta berhenti untuk mengangkut mayat tersebut entah kerumah sakit atau apa. Dan adik gue memilih untuk terus jalan.
“WHY? why would you do that?!!” tanya gue ga percaya. Because! he said, kalau lo berhenti, lo akan dipaksa menjadi saksi dan harus membayar sejumlah uang kepada polisi (I have no idea jadi saksi suatu perkara berarti membayar sejumlah uang). Dan lo akan dipaksa membayar biaya rumah sakit or else mayat tidak akan dipindahkan dari mobil lo. Lo akan terseret serangkaian proses entah birokrasi apa namanya yang ujung-ujungnya menguras uang lo. Beside, orangnya juga udah ga tertolong lagi nyawanya.
Is it true? Entahlah, tapi kalau ini benar entah kenapa gue ga heran. Yang jelas kalau ini diteruskan, akan semakin banyak orang yang ignorance. Ya iya lah! Ketika kebaikan lo malah dijadikan senjata buat merugikan lo. Lama-lama ga akan ada orang yang mau berbuat baik. Lagi-lagi, akar dari semua permasalahan entah itu sosial; budaya bahkan kemanusiaan di negara kita ada pada korupsi! (yang dalam definisi sederhana gue sebagai anak teknik yang ga ngerti teknik apalagi sosial-politik tapi suka sotoy, berarti penyalahgunaan kekuasaan dan atau keadaan demi mendapatkan keuntungan baik berupa uang, jabatan, dan kesenangan yang bukan hak lo).
Di lain hari, seorang ibu datang dengan muka memelas, “Tolong saya dik, saya habis kecopetan. Saya datang dari Jawa mau cari suami kesini. Sekarang saya kehabisan uang dan tidak bisa kemana-mana”. Apa yang akan lo lakukan? Tentu akan lebih gampang beringan tangan menolong si ibu kalau saja tidak ada penipuan dengan modus yang sama dimana-mana.
Kalau lo sendiri, apa yang akan lo lakukan kalau mobil lo di stop ditengah jalan untuk mengangkut mayat korban kecelakaan lalu lintas? Atau kalau lo didatangi ibu-ibu dengan muka memelas? Gue sendiri jujur ga bisa jawab. Di dunia yang serba divergen sekarang, moralitas dan kemanusian semakin blur saja.
Gue berharap gue selalu bisa memegang prinsip-prinsip gue, sehingga setiap malam gue bisa tidur nyenyak dan bisa berkaca tanpa merasa malu pada diri gue sendiri.
And for those people above, seriously, how can you sleep at night?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s