Smart Ass Talks About Religions


“Aku akan tetap percaya pada Tuhan dan aku tidak akan membiarkan aturan-aturan gereja merampas kepercayaan itu dariku”
– Josephine Alibrandi
in A Novel by Melina Marchetta, ‘Looking for Alibrandi’
 

Kalimat diatas adalah penggalan sebuah novel favorit saya. By the way, bagi yang belum membacanya, I recommend it to you guys, novel ini didaulat sebagai novel yang paling keras menyuarakan isu-isu remaja dan lintas budaya dalam 10 tahun terakhir.

Anyway, mungkin kalian heran dengan pernyataan diatas. How contradictive. Bahwa dia bilang ‘akan tetap percaya Tuhan’ dan ‘tidak akan membiarkan aturan gereja merampas kepercayaan itu’. Bukankah seharusnya ‘aturan gereja’ yang membuat kita (semakin) percaya Tuhan? Lantas kenapa pernyataan tersebut menyiratkan seakan-akan aturan gereja-lah yang bisa membuat kita berhenti percaya pada Tuhan?

Tentu pernyataan diatas tidak secara implisit saya tujukan kepada orang-orang Kristen, namun pada agama secara umum, dan Islam secara khusus, sebab saya seorang muslim. Hanya saja saya kesulitan mencari quotes tentang Islam yang senada dengan quotes diatas. Entah karena mereka di barat sana terlalu dangkal sampai bisa menjadikan agama sendiri sebagai lelucon, atau karena kita yang terlalu dangkal untuk mampu menertawakan diri sendiri.

Berbicara tentang aturan, saya rasa saya berbicara mewakili sebagian besar orang islam, bahwa kita sudah muak dengan segala peraturan konyol yang dibuat lembaga yang so-called-theologian-council yang berisi so-called-ulama yang semua fatwanya sarat dengan muatan politis. Silahkan search di google dan anda bisa membaca sederetan fatwa yang semakin kesini semakin menjadikan agama kita seperti agama tolol, yang menjadikan agama kita menjadi olok-olok.

Selain lembaga 3 huruf diatas (sure you know what I mean, right? Karena kita tidak boleh menyebut merk kalau tidak mau berakhir seperti Prita), kita tentu juga tidak asing pada peristiwa 11 September yang juga memperburuk citra Islam dimata dunia. Islam dipandang sebagai agama yang beringas dan kejam. Bermunculanlah cekal terhadap Islam di beberapa negara di dunia. Dari mulai travel warning ke negara-negara mayoritas Islam hingga pelarangan memakai hijab di beberapa negara.

Islam adalah agama dengan penganut terbanyak di dunia. Mengatakan bahwa sebagian besar penganut islam adalah orang bodoh, I think it’s probably true. Sebab sebagian besar penduduk dunia adalah orang bodoh (uneducated, small-minded, terserah deh definisi bodohnya apa), at least akan ada lebih banyak orang bodoh ketimbang orang pintar, right? Kalau 50% manusia bodoh, dan 23% manusia beragama islam, tentu 50% dari 23% jumlah total akan lebih banyak ketimbang, katakanlah, 50% dari 17% jumlah total. Secara matematika wajar saja kalau dikatakan demikian. I’m not talking about percentage or technicality here, I’m just trying to describe my points. Dan lagi sebagian besar penganut islam ‘hanya’ mewariskan agama dari orang tuanya tanpa benar-benar menjadi ‘islam’.  Tapi apa yang begitu itu bisa dikatakan benar-benar islam?

Saya tidak percaya semua agama benar. Pada akhirnya hanya ada satu agama yang benar. Namun saya percaya semua agama baik. Mungkin konsep ketuhanan dan akidahnya berbeda, tapi ajarannya semua mengajarkan kebaikan, right? Sure we can live together side-by-side, right? Seharusnya sih begitu. Sayangnya, seperti yang dikatakan di film cin(T)a, ‘Agama sudah jadi propaganda paling efektif dan paling murah sepanjang sejarah bunuh-bunuhan manusia’.

Seorang teman saya di masyarakat jurnalistik kampus pernah berkata, sepetinya dia setuju dengan lirik lagu John Lennon, Imagine. I’m not agree. Manusia tidak akan cukup dengan hukum dan pemerintahan semata. Agama, seperti juga hal-nya kebudayaan, akan selalu menjadi bagian dari kehidupan manusia in one way or another. Yang harus diubah bukan agamanya, yang harus diubah adalah cara pandang kita.

Sebagai manusia beragama, dan manusia yang berakal, akan banyak sekali hal yang mempengaruhi rasa kita terhadap agama. Seperti yang Mahatma Gandhi katakan, sesungguhnya orang atheis bukanlah mereka yang tidak percaya tuhan, namun mereka yang tidak percaya kepada orang-orangnya, yang tidak percaya pada para penganut agama dengan ajaran mengasihi sesama namun melakukan genosida dan sebagainya.

Tentu kita tidak akan membiarkan sekelompok orang atau bahkan lembaga agama itu sendiri merusak kepercayaan kita terhadap Tuhan, kan? Saya percaya agama adalah antara kita dengan Tuhan. Bahwa yang paling penting adalah menjaga hubungan baik dengan tuhan (yang mana cukup kita yang tau) dan menjaga hubungan baik dengan manusia (dan bunuh-bunuhan tidak termasuk didalamnya). Bahwa bukan seberapa banyak ibadah kita yang memasukkan kita ke surga, melainkan Syafaat-Nya (atau dalam bahasa yang lebih umum, Kasih Tuhan)

Jadi, jangan biarkan aturan MU*, FP*, aturan gereja, atau aturan apapun memudarkan kepercayaan kita kepada Tuhan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s