Deja Connu


“I can’t see Ken without feeling ashame

I can’t see you without feeling heartbroken”

Pernah gak lo suatu waktu kenalan sama seseorang, but the next time lo ketemu dia lo ragu untuk menyapa, takut dia ga ingat siapa lo? Padahal sih kalo diliat-liat dia juga curi-curi pandang ke elo dengan pikiran yang maybe just exactly the same seperti yang lo pikirin. Pada akhirnya lo dan orang itu kembali menjadi orang yang saling tidak mengenal. Mungkin bahkan suatu hari nanti lo akan kenalan lagi sama dia. Dan mungkin lo akan berfikir “I’ve known this person once”.

Mungkin kalian akrab dengan istilah Deja Vu. Secara harafiah, deja vu berarti I’ve seen dalam bahasa Perancis. But since it’s me, the person who loves to make up terms and words, I came up with a new term. Deja Connu. I’ve known. Honestly gue ga tau istilah ini beneran ada atau engga, I just make it up.

Tentu saja cerita diatas mungkin adalah salah satu contoh lucu dari Deja Connu. Bagi gue, Deja Connu adalah hal yang sangat menyedihkan.

It is nice to see two people who barely known each other become so close and attached. Aren’t we girls just love such things? Kita suka mendengar cerita how two lovers met. Kita merengek-rengek minta nyokap nyeritain cerita pertama kali ia ketemu bokap. Dan kalau ketemu teman lama dan pacarnya most likely we ask “How you two met?”. Our romantic heart hunger for those kind of story.

But this is not about it. This is the exact opposite of it. This is about when two people that once so close become a stranger.

Entah itu (tadinya) teman, (tadinya) pacar, (tadinya) saudara, bahkan (tadinya) orangtua.

Satu contoh, dulu gue punya tukang lulur. Ibu itu kalau ngelulurin telaten deh, semua sela digosok sama dia. Suatu ketika gue minta tolong dia untuk mencarikan gue pembantu. Beberapa lama dia nyariin, beberapa kali minta ongkos dan segala macam. Tapi dia ga pernah balik lagi. Gue datangin rumahnya, dia malah main kucing-kucingan. Setelah beberapa lama taulah gue dia ga akan kembali dengan pembantu yang gue minta. Sekarang kalau gue ketemu dia di jalan kita berdua seperti orang ga kenal aja. Mungkin dia malu kali sama gue sehingga memilih untuk pura-pura ga kenal.

I can’t see Ken without feeling ashame”

Itu masih contoh ga penting.

Gue dulu juga punya temen. Akrab dari mulai ospek kampus. Dulunya kemana-mana berdua, nginep-nginepan dan segala macamnya. Karena satu dan lain hal kita sudah bukan teman lagi sekarang. Kalau ketemu kita cuma ngelengos aja. Yang aneh kalau kita ketemu pas lagi bareng temen-temen lain. Harus saling sapa dengan temen lain tapi gimana caranya supaya kitanya sendiri ga saling sapa. That awkward moment.

And don’t even make me start on exes lists.

Teman yang tadinya dekat, pacar yang tadinya akrab, sekarang lo cuma ngeliat mereka dari jauh dan berfikir “I’ve known that person once”. It’s just so sad.

Biasanya orang memutuskan untuk tidak lagi saling mengenal karena mereka tidak bisa mengatasi perasaan yang mereka rasakan ketika melihat orang itu. Penggalan dialog diatas, look how Emma seems so much in pain when she said that. It is painful. Makanya banyak orang memilih untuk tidak lagi saling kenal ketimbang harus deal with their own feeling.

“I can’t see you without feeling hurts, I can’t see you without feeling betrayed, I can’t see you without feeling angry” “But I remember all the things that we said, and the promise we made of you and I.”

Pernah ga sih lo merasa demikian? Gue rasa banyak orang yang akan bilang “I know that feeling. I had it once”. Orang tua dengan anak yang hamil diluar nikah atau dengan anak yang menikah dengan beda agama. Sahabat yang berantem karena suatu hal yang tidak bisa dikompromikan. Saudara yang berselisih masalah warisan. Teman sekelas yang tidak lagi saling sapa karena pacar. Too many examples, just too many. Yang gue bilang barusan bukan fiksi, that’s what happen around me.

Mimi dan Mitha. Santi dan Betra. Triwati dan Sajali. Rifky dan Ramadhan. Monica dan Indira. Shinta dan Roma. Too many names, just too many.

What you need, when you deal with this kind of things, is “The sense of closure”. Pertama kali gue denger istilah itu adalah di serial TV “How I Met Your Mother”. It is the term to describe when you finally can close your feeling to something that bothering you for so long. Atau kalau mau mengutip istilah di film Kungfu Panda 2, “The Inner Peace”. It’s when you finally make peace with the fact.

I found this in someone’s tumblr:

Just exactly what I’m talking about Deja Connu!

What about you? Ever had a Deja Connu? Share!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s