What’s with the Wait?


I’ve been meaning to write this long ago, after I read this particular chick-lit titled “Love Trainer”. Sebenernya ini chick-lit lama, belinya juga di rak diskon Gramedia. Ga bagus-bagus amat juga sih, cuma I think this book got the point just right. Intinya sih ini buku tentang how to train your boyfriend like a dog, blah blah blah that we have to take control and be the leader of the relationship. Selain itu buku ini juga menekankan, why bother to have a boyfriend kalau the boyfriend don’t worth to keep? Intinya sih, mendingan jomblo daripada pacaran sama orang bapuk. Banyak di buku ini yang bikin gue like “Right? Right? that’s what I think!” Salah satunya adalah, kita sering kali menunda melakukan sesuatu demi menunggu entah waktu yang tepat, atau orang yang tepat to do it with.

This is so right! I’ve been doing this the whole time! Misalnya aja gue nemu cafe baru yang bagus. Pasti gue mikir, ah entar deh kesananya kalau cowok gue (now mantan, R.I.P) kesini. Atau ketika gue liat that cute heart-shaped necklace yang dipake sama Diana Rika Sari, gue mikir well tunggu dibeliin aja, soalnya kalau gue beli sendiri kok kayaknya meaningless yak. Bahkan nih ya kadang-kadang mau nyalon aja gue nunggu. Tunggu kalo dia kesini aja, males juga nyalon terus pulang dengan rambut wangi tapi ga ada yang nyium-nyium rambut gue entarnya *halah. Lebih ekstrim lagi, misalnya long-life jomblo yang tinggal di kosan sumpek, mau beli rumah atau ngontrak kamar yang bagusan selalu ditunda karena mikir, entar aja deh kalau udah punya suami. Bukan cuma tentang cowok aja kok, banyak contoh lain. Misalnya menunda pengen punya anak, soalnya sekarang pekerjaan masih demanding, bla bla bla nunggu waktu yang tepat. Atau pengen pergi liburan, sekarang masih sibuk, tunggu kalau ada long weekend aja, atau apalah yang pada akhirnya hal-hal tersebut ga jadi kita lakuin. Dipikir-pikir rugi banget ga sih? Kenapa harus nunggu kalau bisa dilakuin sekarang, right here right now?

Pemikiran seperti ini nih kayaknya yang menjauhkan kita dari simple-happiness.

Pernah liat ga ini?

CaptureIntinya sih, you can be happy if you choose to be happy. Bahwa sebenernya yang membuat kita jauh dari kebahagiaan adalah kita sendiri, yang malah memperumit ketika sebenarnya menjadi bahagia itu gampang banget. Menunda-nunda makan di restoran bagus hanya karena ga punya pacar akan membuat lo tidak bahagia karena tidak punya pacar, ya ga? Kenapa ga sambar tas lo, dan cabs ke restoran itu right away? Treat yourself to a good meal or that orgasmic chocolate dessert. Lalu, berdandanlah bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk diri lo sendiri. Cute dress yang lo simpen-simpen buat kalau ada yang ngajak lo romantic-diner? Pake aja terus pergi ketempat yang cozy, ajak teman atau sendiri juga gapapa.

Wait no more, mate, wait no more.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s