Teachers


Bagi gue, guru punya peranan besar dalam membentuk siapa gue yang sekarang. Di post sebelumnya gue pernah cerita tentang guru SMA gue pak ST, dimana beliau tidak hanya mengajar Fisika, tapi juga mengajarkan pentingnya untuk stay virgin until married.

Guru yang sama ini juga yang mengajarkan sebuah teori aneh ke gue. Waktu lagi dikelas, beliau pernah menyuruh kita melakukan hal aneh ini: “Coba kalo nanti kalian lagi naek angkot 078 itu. Pas lewat di depan pabrik karet, bilang keras-keras ‘Hmm bau rendang!’, pasti orang akan otomatis menghidu, padahal udah tau kalau di situ bau karet. Ya memang sih abis itu kalian bakal disangka orang stress”. Hahaha, pak ST dan teori-teori anehnya :))

Ada juga pak JS, yang setahun sebelum UAN menyuruh kita mengerjakan soal-soal dari belasan tahun sebelumnya. Beliau berjanji memberikan kita semua nilai yang sama, 98 di rapor untuk pelajaran matematika. Tapi kira-kira beberapa bulan sebelum UAN, setiap minggunya dia mempersilahkan satu orang untuk maju kedepan, mengerjakan 3 soal random yang dia pilih dari tumpukan soal. Tidak ada paksaan sama sekali, yang mau ya maju, kalo ga ada yang mau juga gak apa-apa. Tapi bagi yang tidak mengerjakan 3 soal didepan dengan benar harus mengumpulkan jawaban beserta pengerjaan dari setiap soal UAN dari kira-kira 12 tahun yang lalu. Rangkap 5. Dari 5 orang yang berani maju, hanya 2 orang yang lolos dari hukuman ‘Rangkap Ratusan’nya pak JS, dan dengan bangga gue katakan gue salah satunya.

Pesan moral yang gue tangkep dari cara mengajarnya yang unik adalah, semua orang bisa mendapatkan apapun yang orang lain bisa dapatkan, ga peduli seberapa pintarnya atau seberapa kayanya orang lain itu dibanding lo, you just need to work harder.

Ada juga guru bahasa Inggris SD gue, bu Elie. Cantik, muda, modis, dan gue sangat terpana waktu dia membaca buku Harry Potter versi Inggris di kelas. Waktu itu gue pikir, wow kalau gue jago bahasa Inggris kayak dia gue juga akan bisa baca buku-buku keren yang tebal dan terlihat penting seperti itu. Yah walaupun ternyata gue tinggal beli aja versi terjemahannya. Point is, dia yang bikin gue ngerasa jago bahasa Inggris itu adalah sesuatu yang keren. Dia yang gue SMS nanya arti lagu-lagunya Britney Spears. Kalau bukan karena dia mungkin gue ga akan bisa baca novel in English atau nonton film Hollywood tanpa text.

Dan pastinya gue ga akan lupa sama pak Zul. Guru komputer gue waktu SMP yang meskipun udah baya tapi ganteng dan asik. Dia yang membayar ganti rugi ketika gue nabrak orang dengan mobil gue dan terlalu takut untuk bilang ke bokap. Dia yang menyelamatkan gue dari diganyang hidup-hidup sama anak SMP tetangga dan teman-temannya itu. Yah well, temen-temen gue ga kalah ganas sih dari temen-temen cewek yang nabrak gue itu. Cuma temen-temen dia lebih kampung dan lebih sering tawuran, so..

Yah intinya, ada banyak banget guru-guru yang ga akan gue lupakan. Baik ajarannya maupun tingkah-tingkah lucunya dan ciri khas masing-masing yang selalu jadi obrolan hangat setiap reuni apapun. Bu Yulminova, Bu Titiek, Bu Ria, Bu JK, Bu Yenti, Bu Farida, those I can’t name one by one. Gue yang sekarang bukan siapa-siapa tanpa beliau-beliau itu. Bukan cuma ngajarin ilmu akademik aja, mereka juga ngajarin prinsip dan life skill.

Semoga mereka semua masuk surga, amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s