The Art of Delegation


Gue baca di suatu buku tentang PNS gila, eh by the way jadi banyak ya buku jenis kayak gini. Dimulai dari si pionir Kambing Jantan: Catatan Seorang Pelajar Bodoh, Anak Kost Dodol, Catatan Dodol Calon Dokter, Catatan Mahasiswa Parno, sampe yang gue baca ini, catatan PNS gila. Sepertinya semua orang bodoh, dodol, parno atau gila sukses menerbitkan buku harian mereka.

Eh, kan jadi kemana-mana deh. Pokoknya dibuku itu ada cerita tentang kerepotan dia mengantarkan honor kepada para pengisi acara seminar karena sebagian besar dari pembicara itu gak mau honornya ditransfer. Jadilah dia harus berpanas-panas plus bau ketek naik bus kota keliling Jakarta buat nganterin honor. Waktu itu gue mikir, if it was me, gue pasti bisa menemukan cara supaya gue ga perlu repot-repot nganterin honor, gimana kek caranya, secara siapa sih yang ga mau duit. Toh acara seminarnya udah berlalu. Jadi sebenarnya kalau ga dianter juga yang rugi si pembicara itu kan?

Berlawanan dengan cerita diatas, di buku Devil Wears Prada, gue terkesan dengan kecerdikan Andrea ketika Miranda minta 2 copy buku Harry Potter dikirim ke suitnya di Ritz Paris pada akhir pekan. Tidak rela weekend-nya diganggu oleh hal ga penting macam itu, Andrea pun lantas menciptakan sebuah mekanisme dimana dia ga perlu repot-repot ngapa-ngapain dan have everything done for her by other people, dia cukup mengecek via telepon saja. Memang sih endingnya ga terlalu bagus, dia hampir dipecat karena copy yang nyampe ke Paris cuma satu padahal Miranda mintanya kan dua.

Intinya, entah dalam pekerjaan ataupun hal lain, tidak semua hal harus kita lakukan sendiri, terlebih apabila posisi kita sebagai bos, ketua kelompok, atau pimpinan apapun bentuknya. Pemimpin macam apa sih yang baik? Tentu sebagai mahasiswa yang menghabiskan sebagian besar (yakni, nyaris seluruhnya) waktu dengan internetan ga penting, ketua yang gue temukan hanya sebatas ketua kelompok tugas besar mata kuliah anu. Dari pengalaman itu, gue ngeliat ada dua tipe ketua, yang pertama yang turun tangan sendiri dan biasanya ujung-ujungnya nyaris selalu mengerjakan sebagian besar pekerjaan itu sendirian karena anggotanya ngabur. Dan yang kedua, yang kerjaannya menyuruh-nyuruh (tanpa benar-benar mengerjakan apapun tapi tidak terlihat demikian) dan menciptakan mekanisme kerja dan/atau hukuman bagi yang madol sehingga semua orang bekerja. Tentu saja ada jenis lain yang tidak melakukan keduanya -tidak mengorganisir, dan tidak pula ikut kerja- seperti ketua kelompok INOV gue semester lalu, yang mana tidak perlu dibahas sebab tidak penting. (hah)

Gue sendiri sebagai gemini sejati yang berkepribadian ganda tapi tidak schyzophrenic, menganggap diri gue memiliki kedua tipe ketua tersebut didalam diri gue. Pada dasarnya dalam sebuah kerja kelompok, jenis kerjasama yang lebih gue suka adalah sistem “Bagi Tugas” dengan memecah kelompok menjadi kelompok kecil dan membagi-bagi tugas yang harus diselesaikan. Menurut gue cara ini lebih efektif ketimbang mengerjakan semuanya “Bersama-sama”. Selain itu kepala gue terlalu besar untuk bisa disatukan dengan terlalu banyak kepala lain.

Tapi ada kalanya ketika orang lain tidak gue anggap sekompeten gue dalam hal tertentu, terkadang sifat bossy gue mengambil alih dan ujungnya kalau ga nyuruh-nyuruh sampe orang kesel, ya gue mengerjakan semuanya sendiri, demi perfection-in-my-opinion, bukan perfection yang sesungguhnya. Sifat jelek menurut gue. Gue termasuk orang yang perfectionist, tapi hanya untuk hal-hal yang benar-benar gue suka aja sih. Gue menyukai mekanisme, baik arti katanya maupun kata itu sendiri. Ada masa ketika gue selalu menyebut-nyebut “Mekanisme” seperti orang yang baru tau arti sebuah kata. Kalo ga salah kelas 2 SMP deh. Jadi kalau mau janjian pergi bareng atau apa gue selalu ngomong: “Oke, jadi mekanismenya gimana nih guys?” Hahaha:p

Nah, merujuk kedua contoh yang gue paparin diatas, rasa-rasanya the art of delegation ini adalah PR penting buat gue kalo mau hidup sukses tapi santai. Kemampuan kita mendelegasikan tugas dan mengatur orang-orang yang berada dibawah kita untuk hasil yang maksimal tanpa harus benar-benar terjun dan melakukan segala sesuatunya sendiri, asik banget kan?

Gue jadi inget kuliah inov, jadi setiap kuliah dengan dosen gue yang agak nyentrik itu selalu diputar video tentang Wirausaha Muda Mandiri. Ada founder Baba Rafi, Bakso Anu, dll, tau kan? Franchise-an modal kecil yang sukses punya ratusan cabang di Indonesia. Semuanya menceritakan awal usaha dan kiat-kiat mereka hingga sukses. Gue paling terpana sama satu orang yang kata dosen gue jadi pemenang WMM taun kapanlah itu. Dia bilang, dia memulai tanpa modal apa-apa, semua tenaga ahli dia sewa, bahkan ketika ditanya “Wah anda pinter ngomong dong ya berarti?”, dia malah bilang “Ah engga juga, saya ga pinter ngomong. Tapi saya punya orang yang pinter ngomong untuk menangani deal-deal dengan klien”. Dan yang paling gue inget kata-kata dia “Saya ga lulus kuliah, tapi bawahan saya adalah mereka yang lulus kuliah bahkan S2”

Intinya sih, yang lo perlukan cuma the art of delegation doang! How genius! Semisal lo mau jadi pengusaha sate, yang perlu lo lakuin adalah mengumpulkan orang yang jago masak sate, orang yang punya modal, orang yang jago ilmu pemasaran, dan voila, lo cukup mendelegasikan dan mereka yang akan melakukan semua kerja. Terdengar mudah tapi enggak loh. The art of delegation, satu ilmu yang belom gue punya dan I eager to learn that. Demi hidup sukses dan santai. Yeay!

Advertisements

2 thoughts on “The Art of Delegation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s