Kalau Hati Punya Saklar


Saya pernah bilang ke temen kosan saya yang hopeless-romantic, “Lek, tau ga kenapa banyak cewek yang tetep aja pacaran, meskipun tau misalnya, pacarnya beda agama, atau pacarnya suka kasar, atau pacarnya ga ada masa depannya? Kenapa coba masih dibela-belain tetep pacaran? Soalnya cewek itu paling males menghadapi mourning-period pasca putus”, begitulah ungkap saya dengan sotoynya.

Mourning-period itu adalah periode pasca putus dimana kamu merasa depressed, merasa tidak pantas dicintai, merasa gagal mempertahankan hubungan, merasa ga akan jatuh cinta lagi, merasa merana ga punya pacar, merasa kangen, merasa ga pengen putus, merasakan dorongan kuat untuk balikan, merasa sedih dan lain sebagainya. Untuk hubungan yang hitungannya lama, biasanya hampir pasti akan ngerasain salah satu perasaan diatas.

Kebetulan teman saya ada dua yang baru putus. Satunya cowok. Satunya cewek. Dan dua-duanya lagi dalam masa berkabung, atau mourning-period yang saya sebutkan tadi. Dan dua-duanya bikin setreeesss, hahaha. Datang dengan muka kusut, dan mulai ngedumel-dumel about how bad is the ex. Atau datang dengan mata berkaca-kaca, berkeluh-kesah about how they miss the ex so much. Padahal saya tau dua-duanya toh udah yakin dengan keputusan putusnya, bahwa hubungan ini emang ga bisa, dan ga mau untuk diterusin. Lantas apa sih yang ditangisin?

The thing is, sometimes, when you fall in love, your heart taking charge. Otak suka ga dipake mikir lagi. Tapi lama kelamaan, when logic takes over, you’ll finally come to decision that break up is the right thing to do. Tapi by then, your feeling involved too deep to just can bare the breakup easily. Ketika lo memutuskan untuk putus, the feeling stays. Hell you still love him/her!

Ketika kita lagi duduk pasca sesi curhat, menghela nafas panjang, pandangan menerawang, saya pun berkata ke temen saya, “Di, coba ya seandainya hati punya saklar. Kebayang ga lo? Pas putus, ctak! Lo matiin saklar sayangnya, you don’t have to cry over the breakup. Ya ga sih?”. Yeap, how life can be so much easier.

But then again, kalo misalnya mematikan perasaan segampang itu, mungkin ga akan ada usaha sama sekali ya untuk mempertahankan hubungan. Kebayang ga sih? Mungkin kita akan loncat dari satu hubungan meaningless ke hubungan meaningless lain. Lah terus gimana dooong?

Meskipun pait sepait kopi ekspresso yang mahal tapi dapetnya dikit, we have to over come this mourning-period. Berapa lama sih paling, sehari? dua hari? seminggu? sebulan? setaun? Berapa lama pun itu, lama kelamaan pasti akan hilang kok. Kalau pun ga hilang at least pudar lah, sampe ke tahap ketika lo ingat ga akan bikin lo mewek lagi. Dan hopefully there’s something that you can learn. It maturize you. Haha maturize itu bahasa mana lagi. Maksudnya, mourning-period itu mendewasakan kamu:)

Dipikir-pikir urusan pacaran ini memusingkan ya. Ga semua emang, tapi sebagian besar cuma membawa mudharat. Paling bener ta’aruf deh ya ga sih? Cowok yang dipilih jelas bibit bebet bobotnya, dan niatnya pun jelas ingin membina keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Ta’aruf juga bukan berarti memilih harta daripada cinta kan? Justru dengan ta’aruf kita belajar mencintai orang yang kita nikahi. Bukannya menikahi orang yang kita cintai.

Karena logically speaking, kalau kita menikahi orang yang kita cintai, kita akan menikah dengannya sepanjang kita masih mencintai dia. Sementara mencintai yang kita nikahi, berati kita akan tetap mencintainya sepanjang kita masih menikah dengannya.

Ini apa sih jadi ngomongin ta’aruf?! Hahaha maklum lah sodara, saya lagi galau. Kalau boleh diibaratkan sebuah lagu, maka mood saya sekarang ini seperti lagu kampung dari pesisir pantai melayu sana: “Alah omak kawiiinkan akuuu, oh alah omak, kaweeenkan akuuuuu” Hahahayy~

Advertisements

7 thoughts on “Kalau Hati Punya Saklar

  1. iseng-iseng browsing lisung cafe.. Eh malah nemu blog ini.. PAS dapet artikel yang ini.. kebetulan ogut lagi baru putus (eits curcol) hehehe… Memang bener dipikir2, kalo manusia punya saklar cinta pasti gakan ada perasaan sedih dsb pasca putus….alias mourning period..
    yah, intinya sih jawaban nya cuma soal waktu doank, tanpa disadari juga ntar tiba2 morning period nya udah usang……. nice blog gans… :)

  2. beeugh..ini baru baca,tp pas bgt moment x Tengku Indira Giovany,,
    paling ga nahan sma kalimat yg ini “Karena logically speaking, kalau kita menikahi orang yang kita cintai, kita akan menikah dengannya sepanjang kita masih mencintai dia. Sementara mencintai yang kita nikahi, berati kita akan tetap mencintainya sepanjang kita masih menikah dengannya.”

  3. hahaaaa PAHAM bgt gua sama tulisan lo yg satu ini… nampaknya gw tau nih narasumbernya siapa.. xixixixix

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s