Those Changes that You Want to See..


Saying bad things about something wouldn’t, won’t, make anything better. Not until you be the change you want to see in this world.

Sering sekali kita melihat, mendengar, membaca (most likely di status-status jejaring sosial) komentar komentar jelek tentang negara kita. Datangnya pun dari kita sendiri. Entah itu tentang politik, sosial, budaya, politik lagi, sosial lagi. Dari mulai mengeluhkan jeleknya pelayanan publik, mencela politikus negara, mengeluhkan sistem yang bobrok, hingga memprotes kebijakan kebijakan pemerintah.

Beberapa memang diperlukan. Menyuarakan pendapat, kontrol sosial, atau sekedar menyadarkan orang-orang yang lagi asyik twitteran atau facebookan akan isu-isu yang lebih penting daripada sekedar betapa gantengnya Irfan Bachdim. Berawal dari melihat *nurdin turun* menjadi trending topic, seseorang bisa berakhir dengan googling kenapa sih emang Nurdin musti turun. Not totally useless kan. Beberapa bahkan membawa perubahan. Dari cuma sekedar menulis status-status hingga akhirnya membentuk kelompok sosial yang melakukan kerja nyata. Lihat saja macam-macam gerakan di facebook dan twitter.

Namun, beberapa sisanya, useless, nothing, nada, niente, has no effect whatsoever.

Saya juga sering mendengar komentar, “halah, ngapain sih sok-sok protes, sok ngerti, ga ngaruh apa-apa juga, toh kalo disuruh ngebenerin negara juga belom tentu bisa”, dan yang senada dengan itu. Usually kening saya berkerut mendengar komentar seperti ini. Memang benar disuruh ngebenerin negara belom bisa, tapi bukan berarti kita diam saja melihat ketidakadilan kan. Bayangkan kalau ga ada orang yang protes, bisa-bisa petinggi petinggi negara ini santai-santai saja berbuat dosa.

Tapi pagi ini saya membaca status seorang teman, isinya “twitting (make a trending topic) and doing nothing – That’s Indonesian”, entah kenapa saya menyerngitkan dahi dan berfikir, “well, emang lo udah ngapain aja sih?”, ditambah lagi komentar dibawahnya “Tipikal org indo. Msh sebatas pemakai teknologi gayanya selangit.”, makin dalam kernyitan didahi dan berfikir “Orang indo itu termasuk lo. Kayak yang udah bisa buat teknologi aja sih”. Akhirnya saya ikutan komen juga disitu, dan well, si pembuat status setuju kalo status dia emang ga akan ngasi efek apa-apa,  and I said, “Exactly, no effect”, dan di like sama si yang komen tentang tipikal orang indo itu. Hehehe nyolot abis ya, pengaruh dapet hari pertama kah?:p

But, I’m serious here guys, saya paling muak kalo udah baca status status senada itu. “Dasar orang indo, taunya protes melulu”, “dasar orang indo, kalo ngantri ga pernah bener”, “dasar orang indo, semua latah kalo ada yang happening”, pokoknya yang men-stereotipe begitu lah, seakan-akan yang ngomong bukan orang Indonesia, seakan-akan yang ngomong engga kayak gitu juga. Well dude, mungkin ini berita baru buat lo, tapi menghina negara lo sendiri ga akan membuat negara ini lebih baik.

Saya punya seorang teman, sarkas, sok eksis kemana-mana, dan paling suka memprotes macam-macam. Pemikiran dia biasa saja, meskipun selalu up to date tapi tidak ada yang terlalu wow dari pendapat-pendapatnya yang kebanyakan go with the flow dan “copas dari koran elektronik”, komentar salah seorang temannya. Hell, tapi dia juga suka mengikuti macam-macam gerakan, ikutan jadi relawan, dan lain sebagainya. Berkaca dari dia, saya suka mikir dua kali kalo mau protes macam-macam, jangan sampai saya jadi orang yang cuma bisa protes doang.

Pernah suatu ketika dia mencecar seseorang yang menjadikan bencana alam bahan becandaan. Lumayan sengit di twitter sampe akhirnya dia di unfollow, hahaha. Saya setuju, bencana alam lo jadiin becandaan akan membuat lo terlihat seperti sapi idiot yang gak sensitif sama penderitaan orang. Tapi saya ga berani seekstrim dia, kenapa? Saya toh cuma duduk dikosan, nonton berita, dan ngetwit tentang betapa sedihnya melihat para korban, beda dengan dia yang terjun jadi relawan yang mendistribusikan bantuan. Dia berhak ngomong begitu, saya tidak.

Lalu kesempatan itu datang kepada saya, seorang teman saya juga bercanda tentang bencana alam. Saya mencecarnya. Dan keesokan harinya saya langsung mentransfer sejumlah uang ke rekening bantuan bencana alam. That’s the least that I can do. Saya tidak mau malu dengan omongan saya sendiri.

Akhirnya saya mengerti perkataan Mahatma Gandhi itu, “Be the change you want to see in the world”.

Sekarang saya menjadi lebih jarang memprotes via status jejaring sosial, dan berusah lebih banyak bekerja nyata. Less protesting, more actions. Ketimbang ngetweet tentang kemiskinan di dunia, mendingan ngasi beras ke warga sekitar sini. Toh masih banyak loh yang ngejemurin nasi dari tong sampah.

Saya ingin menjadi perubahan yang ingin saya lihat di dunia. Mulai dari yang kecil. Mulai dari sekarang. Well ini memang bukan hal baru yang saya tulis, tapi berapa banyak dari kita yang melakukannya? Mulai dari yang kecil. Mulai dari sekarang. Dan yang saya maksud dengan sekarang adalah SEKARANG!

Ayo, be the change we want to see in the world guys!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s