Manusia-manusia Gigih


“Kalian itu manusia-manusia gigih”, bisiknya

“Siapa itu ‘kalian’?”

“Anak-anak”

Looking for Alibrandi by Melina Marchetta


Saya percaya, manusia, above all other things, punya mekanisme pertahanan hidup yang luar biasa. Lihat saja bagaimana manusia menciptakan arsitektur, bahasa, kebudayaan dan peradaban. Membangun, kemudian menghancurkan, kemudian kembali membangun. Semua itu bagian dari mekanisme pertahanan hidup manusia, bagaimana kita mempertahankan eksistensi kita di muka bumi.

Dan manusia yang paling gigih mempertahankan eksistensinya, menurut saya, adalah anak-anak. Mereka berfikiran simple, dan persistent dalam menghadapi hidup. Pernah melihat bagaimana anak-anak belajar jalan? Tidak peduli betapapun sering jatuh, mereka selalu bangkit kembali, dan terus mencoba.

Saya punya seorang adik angkat dirumah, namanya Putri. Dia diantarkan oleh seorang lelaki kerumah saya. Lelaki itu ayah angkatnya, mereka mengambil putri dari rumah sakit, ia ditinggalkan di rumah sakit oleh ibu yang melahirkannya. Nama Putri Zanzabila pun diberikan oleh ayah dan ibu angkatnya. Mereka tidak mempunyai anak perempuan, makanya mengangkat Putri sebagai anak, namun karena sekarang mereka sudah memiliki anak perempuan, maka Putri sudah tidak diinginkan lagi. Melihat kondisinya waktu itu, sepertinya Putri telah mengalami siksaan fisik yang lumayan berat.

Sekarang, Putri tinggal di rumah keluarga kami. Tingkahnya lucu, banyak omong, manja, dan sangat rakus. Dia selalu saja lapar, dan makanan apapun yang ditawarkan tidak pernah menolak. Jarang sakit, tidak pernah mencret meskipun susu yang diminum bertukar-tukar. Tidak pernah iritasi ataupun lecet-lecet meskipun pampers yang dipakai tidak selalu sama merknya. Tidak ada istilah “susunya tidak cocok” atau apa lah yang biasanya sering terjadi pada anak seumuran dia. Sudah bisa makan sendiri, mandi sendiri, pake baju sendiri. Apapun lauknya tidak masalah, bahkan makanan pedas dan berkuah rempah saja dia mau. Adik saya yang udah umur 12 tahun aja cuma mau makan goreng-gorengan, nasi putih sama kecap, hahaha.

Dia juga pintar mengambil hati. Dia akrab dan hapal semua nama anak kosan mama. Alhasil mereka sering membelikannya permen. Hal yang paling mengherankan, dia sangat penurut sama mama. Setiap mau tidur, mama cukup bilang, “Putri ayo tidur”, dan dengan patuh dia naik sendiri keatas tempat tidur. Anak umur 2 tahun mana yang bisa begitu?

Mungkin dia takut tidak diinginkan lagi. Mungkin juga dia takut kelaparan lagi.

Apa mungkin benak kecilnya itu menganalisa keadaan dan menyimpulkan dia tidak boleh rewel dan harus selalu menerima makanan yang ditawarkan? Saya rasa tidak. Semua itu adalah alam bawah sadarnya yang bekerja, mempertahankan eksistensinya, mekanisme pertahanan dirinya.

Antara terharu dan takjub. Kalian anak-anak kecil memang manusia-manusia yang sangat gigih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s