Weakling


“What is your biggest fear?”

Setiap orang pasti punya ketakukan. Apapun itu. Takut gagal, takut kesepian, takut kehilangan orang yang kita sayangin, takut berbuat salah, takut keluar dari zona nyaman. Terkadang ketakutan itu berubah menjadi trauma. Trauma, bisa merubah seseorang menjadi orang yang sama sekali berbeda.

Saya masih sangat ingat bagaimana rasanya, pagi itu, ketika saya mengundurkan diri dari pendas Astacala. Pagi itu dingin, tidur semalam tak nyenyak, bivak alam dari daun dan kayu yang kecil dan reot itu harus diisi bertujuh, sebab ada satu kelompok yang bivaknya belom jadi sebelum gelap karena salah satu anggotanya kena hipotermia, terpaksa anggota kelompoknya dibagi-bagi ke kelompok lain untuk numpang tidur malam itu. Malam itu, seperti biasa, punggung menempel pada punggung, kaki bersentuhan dengan kaki, seluruh badan menggigil. Saya ingat gadis disebelah saya terisak sepanjang malam. Telapak kaki terasa terbakar akibat kaos kaki yang selalu basah dan sepatu PDL yang kasar dan keras. Terdengar pula gerutuan teman sekelompok saya, yaah, saya sudah sering digerutui, mungkin dia muak mendengar isakan dan keluhan saya.

Biasanya kami sudah bangun sebelum terang, terseok seok memasukkan badan ke baju lapangan yang basah, kotor dan keras. Pagi itu, seingat saya, lebih terang daripada ketika kami dibangunkan paksa pagi sebelumnya.

Pagi itu saya bangun. Kulit terasa tipis dan sensitif. Udara dingin. Namun badan terasa nyaman didalam baju tidur yang kering dan hangat. Saya pegang baju lapangan saya dengan kedua tangan, keras karena berlumpur, kasar, sebab bahannya dari kain yang tidak mudah sobek, dan basah karena diguyur hujan, keluar masuk sungai, dan entah apa lagi. Sudah seminggu saya keluar masuk hutan, naik turun gunung. Makan nasi yang tidak matang, masakan yang dimasak seadanya, tidur di bivak reot, terseok seok mencari kayu bakar demi membuat api unggun yang tak pernah berhasil menyala dengan terang, koprol dan pushup entah untuk keberapa kalinya, membopong carrier yang beratnya lebih sepertiga berat badan sendiri. Tangan bengkak tertusuk duri tanaman entah keberapa kali, sakitnya pun tak terasa lagi. Kaki melepuh, terasa seperti terbakar. Setiap malam ketika saya tidur, saya bisa merasakan teman disebelah kiri dan kanan saya gemeletar. Setiap hari saya merasakan kelelahan yang luar biasa.

Rasanya setiap jengkal kulit saya sakit. Pagi itu, saya tidak sanggup memaksa diri saya untuk masuk ke dalam baju lapangan yang basah dan kasar itu lagi. Tidak sanggup. Saya tidak mau lagi merasa kedinginan, saya tidak mau lagi merasa kelelahan, saya tidak mau lagi… merasakan itu semua. Tidak mau lagi.

Dan saya pun memutuskan untuk pulang. Kembali ke kenyamanan kamar kosan yang hangat, dengan piyama yang kering dan bersih, memeluk teddy bear yang lembut, dan tidur dengan layak.

“I’m weakling.”

This is exactly like those feeling above.

Sama seperti sekarang. Saya sudah pernah merasakan itu. Saya sudah pernah merasakan menangisinya berhari-hari, merasa begitu rentan, merasa begitu sedih, merasa begitu pedih, merasa begitu… kehilangan. Saya sudah pernah merasakan itu. Saya tidak mau lagi merasakan itu. Ever.

Saya tau, it won’t be forever. Nothing is last that long. Mungkin seminggu, mungkin sebulan, mungkin setahun, tapi pasti, pasti akan berlalu semua rasa yang tak tertahankan itu.

Hanya saja membayangkan harus merasakan hal itu lagi, oh noo, I don’t think I could bear it. I can’t bear it. I won’t bear it.

Entah itu berarti harus pleading like I’ve never been before, atau lower my head to the lowest of the low, or even hurting my self in the process, entah bagaimanapun caranya, saya tidak mau lagi memakai “baju lapangan” yang basah dan kasar itu. Tidak. Mau. Lagi. Ever.

Please god, never let me go through such thing ever again:(

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s