Sampai Nanti, Sampai Mati


*tidak relevan dengan cerita nyata ya, tapi saya suka aja tulisan ini, sayang kalo ga di posting :P

*cerita usang*

Terminal keberangkatan ini lenggang. Sepi. Hanya ada 3 perusahaan penerbangan tidak terkenal yang berterminalkan disini, termasuk penerbanganku. Samar-samar aku bisa mendengar kicauan burung-burung, entah darimana, dari atap sepertinya. Atau mungkin dari kepalaku yang sudah gila.

Sesekali aku pandangi mobil yang berlalu lalang. Dimana dia?

Ponsel ku berdering. Bunyi monophonic yang tidak enak di dengar. Apa boleh buat, ponsel touchscreenku ku hilangkan. Waktu setahunan kami. Waktu masih belum seperti ini. “Baru bangun”, katanya. Lagu lama. Lagu lama yang diulang dan diulang dan diulang sampai aku muak. Sampai aku mati rasa.

Kemungkinannya 2 banding 10 aku akan memikirkannya di rumah nanti. Aku akan terlalu sibuk mengejar ketinggalan beritaku selama di Bandung. Aku akan terlalu sibuk bertemu teman-teman lamaku. Aku akan terlalu sibuk mengganggui adik-adikku, mingling with my families. Aku akan terlalu sibuk untuk memikirkan dia.

Ini momen yang tepat untuk berhenti. Hubungan ini seperti pohon mati. Percuma di siram dan di pupuki. Tak akan hijau lagi. Tak akan berbunga lagi. Aku tau. Dia pun tau. Kami tau dan kami pura-pura bisu. Apa yang kami tunggu? Hingga tunas-tunas cinta berubah jadi benci? Tidak. Ini saat yang paling tepat.

Hhhhh. Aku menghela nafas kesekian kali. Sejam sudah berlalu. Mungkin dia sedang memacu mobilnya kesini. Atau mungkin sedang di depan TV, berpura-pura panik. Aku sudah muak. Sudah sampai pada batasku.

Disini, didepan counter perusahaan penerbangan baru yang tidak terkenal, di terminal paling sepi di bandara ini, di kursi kayu yang sudah boncel-boncel disana-sini. Kisah ini akan berakhir disini, tak akan ada kamu lagi di kepalaku. Sampai nanti. Atau sampai mati.

Aku berjalan, perlahan, ke gerbang keberangkatan di terminal paling sepi di bandara ini. Bukannya masih berharap. Hanya menikmati momen terakhir sebelum semua ini berakhir. Bagaimanapun, kau pernah menjadi yang terindah di hati, yang paling di nanti. Aku menoleh kebelakang terakhir kali dan mendapati tidak ada siapapun disana. Aku berpaling dan tersenyum ketika ada setetes air mata yang lolos.Kemudian melenggang masuk dan tidak akan menoleh lagi.

Semoga ada orang lain lagi yang mengingatkanmu shalat jumat di lain hari:)

Advertisements

2 thoughts on “Sampai Nanti, Sampai Mati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s