Atas Nama UKM dan Home Industry


Sebagai salah satu pendiri negara kita, sepertinya Soekarno mengerti benar ketika berkata dasar perekonomian negara kita adalah Koperasi kekeluargaan. Saya sangat setuju, koperasi adalah satu-satunya cara agar usaha kecil menengah dapat berhasil dan bertahan diantara gempuran barang-barang produksi luar negeri yang lebih bermutu dan bahkan lebih murah harganya.

Negara kita sangat, sangat kaya akan hasil alam. Itu tidak usah lagi ditanya. Tapi sayangnya sedikit sekali yang dapat kita olah sendiri. Kegiatan produksi sendiri berarti mengolah bahan mentah menjadi berdaya guna sehingga nilai jualnya meningkat *berdasarkan ingatan samar-samar pelajaran ekonomi tingkat SMA. Lalu, bisakah kita disebut telah melakukan kegiatan produksi  jika yang kita lakukan adalah membiarkan orang lain *negara lain, dalam hal ini yang mengerjakan perampokan pengolahan bahan mentah kita dan meninggalkan kita dengan pembagian keuntungan 1% *saja dan kerusakan alam yang parah? Begitu banyak potensi yang bisa di gali dan dikembangkan, melibatkan seluruh rakyat *kecil terutama Indonesia yakni dengan jalan home industri.

Tidak usah bermimpi yang muluk-muluk. Tidak usah bermimpi menjadi produsen mobil, pesawat terbang, senjata nuklir. Bagaimana dengan telor asin, manisan kaleng, abon ikan, atau bahkan bawang goreng? Itu bukannya tidak mungkin, bahkan sangat mungkin di wujudkan. Di beberapa desa di Jawa *Jawa Barat most likely bahkan ada home industri prostitusi! Sebagian warga menyediakan penginapan murah, sebagian warga menyediakan jasa prostitusinya, sebagian menjadi bagian pemasaran. Seluruh desa membentuk home industri prostitusi yang kemudian kita ketahui melalui berita di TV, sukses. Kenapa tidak bisa diterapkan ke hal yang lebih baik.

Di hometown saya misalnya, terkenal dengan rambutannya. Binjai kota Rambutan. Dan bagaimana dengan nasib rambutan di kota ini? Menyedihkan. Nyaris tidak ada harganya. Dengan Rp.10.000,00,- kita bisa makan rambutan sampai muntah. Bahkan di rumah saya tidak pernah beli, ada saja yang mengantarkan ke rumah. Dan bukannya sedikit, segoni penuh. Kenapa ini tidak di manfaatkan? Bayangkan jika seluruh kota kecil ini menjadi pengusaha manisan kaleng rambutan misalnya. Semua peladang menanam rambutan. Kemudian ibu rumah tangga di desa-desa semuanya bekerja mengolah rambutan menjadi manisan, kemudian yang pria mengalengkannya, kemudian ada koperasi yang memasarkan dan mengorganisirnya kemudian mendistribusikannya. Bukannya tidak mungkin, sangat mungkin. Maka semua orang di kota kecil ini akan terberdayakan. Ini bisa diwujudkan! Jika dalam pelaksanaannya menjumpai pesaing, kita bisa menggandeng pesaing tersebut, sehingga jaringan kita lebih luas. Asas kekeluargaan melalui jaringan koperasi, seperti menurut Undang-undang No. 25 tahun 1992 Pasal 4 yang menjelaskan bahwa fungsi dan peran koperasi salah satunya adalah berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional, yang merupakan usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi. Saling menjatuhkan tidak cocok dengan kita. Perekonomian liberal tidak cocok dengan kita. Sebab dalam sistem perekonomian liberal yang saling bersaing bukannya bekerja sama, pemilik modal terbesar selalu menang. Dan kita akan selalu di jajah oleh produk asing, selamanya.

Sebenarnya sudah banyak yang melakukan hal ini, hanya saja dalam skala kecil. Di daerah Pantai Cermin misalnya, sudah ada industri rumah tangga yang mengolah ikan menjadi abon. Seandainya yang seperti ini dibina dan dibantu pengembangannya. Saya melihat *dengan mata non-economist tidak terlatih hanya ini jalan satu-satunya kita bisa sukses dari jajahan produk asing di perdagangan bebas.

Saya bercita-cita mewujudkan hal diatas. Dimulai dengan kampung halaman saya, Binjai kota rambutan. Dimulai dari yayasan ayah saya, Yayasan Putra Binjai. Dan dimulai dengan tulisan ini. You say, “you won’t” I say “I’ll try”. Saya butuh bantuan, entah itu sekedar referensi bacaan yang harus saya baca atau opini, pandangan-pandangan, pengetahuan, informasi, contoh studi kasus, kontak,  maupun kesediaan ikut terjun di dalamnya. Apapun. Bantu kita mewujudkannya ya:)

Advertisements

2 thoughts on “Atas Nama UKM dan Home Industry

  1. Bagus, asal anda tidak lupa bahwa “supply tersedia akibat adanya demand”. Saya pikir anda tentu sudah mempetimbangkannya. artinya tidak ada overstock akibat seluruhnya berubah jadi supplier.
    Ada baiknya, usaha disuatu daerah di-diversifikasi.
    Produk asing sebenarnya tidak ada salahnya, dapat dijadikan sebagai perbandingan, ataupun dasar inovasi (inspirasi.red).
    Mengenai pemanfaatan SDA negeri kita yang kaya raya ini, sebenarnya tidak se-simple yang anda pikirkan (terutama negara kita belumlah negara besar).-saya bicara bukan mengenai kualitas maupun kesempatan yang ada dinegara ini, tetapi lebih kepada apek eksternal hubungan antar negara ataupun “trust” negara(kembali ke supply dan demand tadi).
    Tapi…over all opini anda baguslah….
    dan saya tertarik untuk diskusi lebih lanjut dengan anda ..anda dapat meng-contact saya…-Batz.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s