Don’t Break Your Own Rules !!


no more breaking rules ;)
no more breaking rules ;)

Di dunia ini ada bejibun yang namanya aturan. Ya nggak di rumah, di sekolah, di kampus, di jalanan, dimana-mana deh. Sebagian penting, sebagian engga. Sebagian adil, sebagian menguntungkan satu pihak. Sebagian mudah dijalankan, sebagian membutuhkan usaha. Jangan makan di kamar, jangan taro baju kotor sembarangan, jangan telat kuliah, jangan ga masuk lebih dari 4 kali pertemuan, jangan nabok dosen, jangan langgar lampu merah, jangan nabrak orang, jangan maen kitik-kitikan pake pisau tajam, dan lain-lain. Those rules indeed important to maintance order.

I’m not gonna play the smartass here. Saya tidak akan sok-sokan menyuruh anda-anda sekalian selalu mena’ati peraturan dimanapun anda berada. Saya sendiri, melanggar lebih dari setengah peraturan yang ada di sekeliling saya.

Banyak aturan yang saya anggap konyol, tidak penting dan tidak sesuai dengan saya. There for, I break it. Yang sesuai, I obey to it. Apa yang saya lakukan benar? Hah, belum tentu, kemungkinan besar malah salah. Maybe it sounds rebeletic, but I think, what important is making your own rules and obey it. Making your own rules bukan berarti bertindak sesuka hati. Misalnya, saya menganggap konyol peraturan presensi yang musti diatas 75%. Esensinya apa sih, kalo mahasiswa cuma datang kuliah hanya karena takut ga dibolehin ikut ujian, it will be no use at all. Sebagai bukti, siskom2 yang rajin banget saya datengin saban kuliah, dapet D. Tapi rekayasa trafik, yang masuknya sekali-sekali, dan sekalinya masuk telat, well I kind of really good at it, dapet A. A murni yang bukan karena dosennya baik, tapi emang karena saya bisa. Jadi, ketika saya ngga dateng dan harus titip absen, atau ketika absensi bermasalah dan harus ngeles sama petugas rooster supaya bisa ikut ujian, I got no problem doing it, I have no uneasy feeling. Tapi ketika saya harus menyela antrian waktu registrasi semester 2 *masih inget banget, atau ketika sampah yang saya pegang lepas dari tanganwaktu naik motor, well, I DO feel guilty. Because those are my own rules, my idealism. Tidak menyela antrian dan tidak membuang sampah sembarangan.

Sebagai wanita, saya sendiri menganggap peraturan kuota 30% untuk wanita dalam pemerintahan as an insult. Why are you guys giving us women quota? Apa kalau bersaing secara sehat, kami para wanita dianggap tidak sanggup taking our own seat? Yang penting hanyalah, wanita jangan di diskriminasi, udah itu aja. Masalah ada berapa banyak nantinya jumlah wanita disusunan pemerintahan, that should be a matter of capabillity.

Saya pernah bertanya kepada seorang teman yang melanggar peraturan, “Hey, why are you doing that?”. Dan jawaban dia adalah, “Because I’m ready for the consequencies.” Waw, I kind of agree with this one. Satu lagi esensi dari obeying the rule is, anda boleh melanggar ketika siap dengan konsekuensinya. Ketika udah tau telat bayar internet di denda, there, pay the forfeit. Ketika udah tau doing freesex can cause pregnancy, there, raise your too-early child well. Saya suka eneg sama orang yang suka mohon-mohon dibebas-hukuman-kan ketika melanggar peraturan. Kalau saya sih, dari pada mohon-mohon dibolehin masuk kelas ketika telat, mendingan tau diri deh liat pintu udah ditutup sama dosen. Balik badan tidur ke kosan. Hahaha..

On the other hand, saya juga punya teman yang taat banget sama yang namanya aturan. Saya pernah berdebat panjang sama dia, mengenai penting engganya berenti di lampu merah ketika hari udah larut malam dan ga ada mobil lagi yang lalu lalang. Dia berpendapat kita tetap harus berhenti di lampu merah,no matter what! Well, I think that’s just so stupid. You have to know and understand what is the essence of every rule. Lampu merah kan dibuat untuk menertibkan lalu lintas mobil di simpang jalan. Mobil dari arah mana yang jalan duluan, mobil dari arah mana yang harus nunggu. Kalau udah ga ada lagi mobilnya, buat apa lagi berenti di lampu merah, ya ga sih? That’s the second essence of obeying the rules, know the essence of every rule.

Once again, I’m not trying to be a smartass here. Just saying my thought out loud.Mena’ati peraturan memang penting, tapi yang paling penting adalah tidak melanggar nilai-nilai yang anda anggap benar, obey to the rules and things that you hold dear, your own idealism, that’s what matters. So, what kind of person are you guys? Please do share us :)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s