Imajinasi Kekuasaan : “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah!”


(*)Merdeka sekarang juga, dalam konsep Soekarno, mengandaikan adanya pemimpin yang kuat dalam membimbing tumbuhnya bangsa dan negara ini ke arah kemajuan. Ini berbeda dengan konsep Hatta dan Sjahrir, yang mengandaikan perlunya disiapkan suatu masyarakat yang siap, terdidik, dan terpelajar untuk menyongsong datangnya abad baru.

Karakter kepemimpinan Soekarno itulah yang menjadi acuan Soeharto, dengan paham pemerintahannya yang sentralistik, hegemonik, dan otoritarian. Akibatnya, berbagai lembaga negara dan lembaga masyarakat dikendalikan oleh kekuatan tunggal untuk tujuan dan imajinasi kekuasaan semata. Bedanya, imajinasi kekuasaan Soekarno berorientasi pada bangsa dan negara, sementara orientasi Soeharto lebih pada kesejahteraan keluarga dan para kompradornya.”

Selama bertahun-tahun *halah saya mencari-cari kalimat yang tepat untuk menggambarkan pendapat saya tentang kedua presiden kita tersebut, akhirnya saya menemukan kalimat yang sangat pas menggambarkannya. Imajinasi kekuasaan.

(**)”Pada tanggal 10 Januari 1966 terjadi demonstrasi besar KAMI yang pertama. Para demonstran berkumpul didepan gedung Universitas Indonesia di Salemba Raya dan dari sana menuju ke Menteng, ke istana kepresidenan di lapangan Merdeka. Mereka *para mahasiswa-red menjunjung spanduk dengan tiga tuntutan (Tritura) yang selama perundingan-perundingan dengan sengaja dituang dalam bentuk yang sederhana agar bisa mendapat dukungan luas masyarakat Jakarta. Tuntutan-tuntutan ini, yang ditujukan kepada presiden Soekarno, berbunyi:

Bubarkan PKI

Rombak kabinet

Turunkan Harga”

dan puncaknya adalah ditandatanganinya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar)  yang menandai fase jatuhnya Soekarno.

Setelah penandatangan Supersemar, Soekarno tetap mengkritik pemerintahan yang baru setiap kali ia mendapat kesempatan. Salah satunya adalah yang ia ungkapkan dalam pidato tahunannya dalam rangka peringatan kemerdekaan. Judul pidato itu sendiri: ‘Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah’, yang jelas merupakan tantangan ke arah Orde Baru *berkenaan dengan sejarah terbentuknya orde baru, saya rasa-red. Meskipun kadang-kadang mahasiswa meneriaki makian, berbeda dengan pidato kemerdekaan Soekarno tahun-tahun sebelumnya yang selalu diwarnai sorak sorai.

Setelah itu pada akhir masa pemerintahan Soeharto, sama seperti ketika Soekarno jatuh, mahasiswa juga merupakan barisan depan yang melawan Soeharto. Seperti tuntutan Tritura pada masa Soekarno di tahun 1966, mahasiswa pada tahun 1997 pun menghadapkan Soeharto pada 3 tuduhan:

Korupsi

Kolusi

Nepotisme

atau KKN. Mahasiswa bersama-sama dengan pengikut-pengikut Megawati berdemonstrasi melawan diktator yang sedang goyah itu, atas nama Ratu Adil Soekarno. (***)Karena kurang mengetahui sejarah bangsa sendiri, para demonstran tidak sadar bahwa mereka menuduh Soeharto telah melakukan dosa-dosa yang sama seperti yang dituduhkan kepada idola mereka *Soekarno-red 34 tahun lalu oleh para mahasiswa pada masa itu : Korupsi dan Penyalahgunaan Kekuasaan.

Soekarno dan Soeharto. Dipuja dan dihujat.

Pada akhir masa pemerintahannya Soekarno dihujat dan dijatuhkan kepemimpinannya oleh Mahasiswa. Kemudian di akhir masa pemerintahan Soeharto, Soekarno kembali dipuja-puja sementara Soeharto dihujat dan digulingkan kepemimpinannya oleh aksi mahasiswa. Namun pun begitu, di masa sekarang masih banyak orang-orang *kebanyakan orang tua yang memuja Soeharto. “Lebih enak hidup di jaman Soeharto”, kata mereka.

Sungguh menyedihkan terkadang melihat betapa kita tidak mengerti sejarah bangsa sendiri. Meskipun ungkapan yang dilontarkan bung Karno ini bermuatan politis ketika itu, namun sangat benar adanya: “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah!”

Seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, saya sulit menemukan ekspresi yang tepat terhadap pendapat saya kepada kedua mantan presiden RI ini, dan ini yang saya anggap paling tepat.

“Keduanya mengalami Imajinasi Kekuasaan. Bedanya, imajinasi kekuasaan Soekarno berorientasi pada bangsa dan negara, sementara orientasi Soeharto lebih kepada kesejahteraan keluarganya.”

Sungguhpun begitu, Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, tetap sosok yang saya sangat kagumi.

(*)dikutip dari:

Matikan TV mu! : Teror Media Televisi di Indonesia

oleh Sunardian Wirodono

Bab 1, halaman 5, paragraf 1 dan 2

(**)dikutip dari:

Pembantaian yang Ditutup-tutupi : Peristiwa Fatal di Sekitar Kejatuhan Bung Karno

oleh Lambert J. Giebels

Bab 7, halaman 186, paragraf 1

(***)dikutip dari:

Pembantaian yang Ditutup-tutupi : Peristiwa Fatal di Sekitar Kejatuhan Bung Karno

oleh Lambert J. Giebels

Bab Epilog, halaman 260, paragraf 1

* foto dalam tulisan ini bukan milik pribadi, jadi silahkan disedot, yang lain jangan yaa~

Advertisements

One thought on “Imajinasi Kekuasaan : “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s