Negeri Para Pedagang


Aku tengah duduk di sebuah cafe kotor yang dipenuhi asap rokok di bandara, sekadar menenggak kopi kalengan yang kubeli dengan harga dua kali lipat yang biasa, sembari men-charge laptopku, membaca buku yang kucuri lewat internet, sambil mendengarkan lagu yang juga kucuri dari tempat yang sama. Setengah jam disini, entah berapa orang pedagang yang menghampiri. Sungguh dunia ini adalah tempat orang berdagang.

Menit pertama ku disini seorang anak kecil kumal menghampiri, menjajakan jasa menyemir sepatu kepadaku, kupandang dia dan kemudian kupandang sendal jepit di kakiku –yang notabene tidak dapat disemir- lalu perlahan menggelengkan kepalaku padanya. Sepuluh menit kemudian giliran ibu-ibu dengan tas pinggang, memamerkan beberapa jam tangan di pergelangannya. Penjual jam tangan palsu. “Rolex dek, murah”, ucapnya. Lagi-lagi kugelengkan kepalaku. Sejak kapan rolex murah, gerutuku. Yang lebih mengejutkan lagi adalah semenit kemudian masuklah perempuan berkerudung menjual doa. Seorang bapak yang membeli tersenyum senang ketika perempuan itu memdoakannya dengan yang manis-manis sembari menuliskan receive yang berlogokan nama suatu yayasan yatim piatu, yang entah benar ada atau tidak. Dipojokan koridor yang sederetan dengan cafe kecil yang kutempati, sebuah cafe yang menjual kopi yang sama dengan harga sampai lima puluh ribu perak segelas, mereka menjual gaya hidup. Di sebuah toko pakaian di dalam sebuah mall di sebuah kota besar, sepotong kaus yang jika kubeli di pasar hanya seharga sepersepuluhnya, mereka menjual merek, atau gengsi? Pria-wanita yang mengetoki kamar kosanku, berkedokkan petugas RT yang menjual bubuk abate yang –katanya- wajib dibeli, mereka menjual dengan membodoh-bodohi. Ibu tukang cuciku, yang mengantarkan seorang tukang pijat dengan baik hatinya kepadaku, kemudian berdiri dengan manisnya menunggu aku mengangsurkan lembaran seribuan padanya, dia menjual.. entahlah, mungkin menjual kebaikan hati. Wanita-wanita malam dipinggir jalan dimalam hari, mereka menjual harga diri. Pejabat yang menerima suap, mereka menjual integritas. Mahasiswa yang berdemo karena di setiri, mereka menjual idealisme. Layanan sms reg yang banyak di TV, mereka menjual kebohongan. Semua serba dijual. Semua serba dibeli. Tak heran banyak pencuri di negeri ini.

Aku sebenarnya tak ingin mengomentari. Aku tak akan berpendapat sekadar berbagi. Sebab aku pun tak mengerti, aku tak pernah tidur di jalanan, aku tak pernah menjajakan diri, aku tak pernah kelaparan, aku tidak pernah mengemis atau membual demi sesuap nasi. Ini negeri tempat para pedagang menjajakan materi dan gengsi. Aku terjebak ditengahnya. Diantara kepulan asap, disebuah kafe kecil kotor dibandara, yang menjual sekaleng kopi dua kali lipat harga biasa, demi men-charge laptopku untuk membaca buku yang kucuri, sembari mendengarkan lagu yang juga kucuri. Seorang ibu berbadan gempal menggendong bayi ditangannya menghampiriku, “ bayi neng, murah”, ucapnya. UHUK! Aku tersedak kopi!

Advertisements

3 thoughts on “Negeri Para Pedagang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s