Balada Pemilihan Umum


Pidato Jacob Coote pada acara tahunan “Sampaikan Pikiranmu”
Dikutip dari sebuah novel : Looking for Alibrandi, oleh Melina Marcheta

“Saya rasa, semua partai politik sama saja. Para politisi selalu saja membuat janji-janji yang sama. Mereka berbohong dan terus terang saja, saya tidak mengerti mengapa pemilih normal bisa terpengaruh kampanye politik. Padahal kita semua sudah tahu apa yang mereka katakan adalah apa yang ingin kita dengar.
Dulu saya sempat berfikir, jika tiba saatnya nanti saya harus memilih dalam pemilu, saya tidak mau repot-repot. Mungkin saya akan memberikan suara secara asal-asalan saja. Atau malah saya tidak akan repot-repot mendaftarkan diri. Mungkin karena hingga baru-baru ini saja, saya mempertanyakan pentingnya pemilu. Apa hebatnya sistem politik kita disini? Mengapa kita menyebut diri kita negara yang beruntung, padahal separo rakyatnya tidak mampu membeli rumah?
Kalian tahu, sebenarnya saya tidak tahu harus berpidato apa hari ini, karena saya baru diberitahu satu jam yang lalu bahwa saya harus tampil dan menyampaikan pidato. Tadinya saya mau berbicara tentang kebebasan yang kalian rasakan saat mengendarai sepeda motor, tapi itu tidak ada hubungannya dengan menyampaikan pemikiran. Waktu salah seorang rekan saya tadi berdiri disini dan berbicara tentang ketidakpedulian kita dalam memberikan pendidikan seks yang benar, saya merasa khawatir. Saya rasa saya tidak bisa memikirkan topik yang sama berartinya dengan pidato rekan saya itu. Sampai saya memandang para hadirin dan melihat Anda sekalian.
Saya merasa beruntung. Karena kita punya pilihan, dan saya rasa, tujuan kita memilih bukan untuk memilih partai terbaik, namun untuk menghentikan langkah partai terjelek. Karena kita bisa berdiri di sini dan melancarkan aksi protes. Kita bisa memprotes semua kebijakan Perdana Menteri. Kita bahkan bisa mengata-ngatai dia. Kita bisa memanggil Perdana Menteri dan juga pemimpin oposisi. Kita bisa menjerit, berteriak, memprotes, bahkan membakar bendera kalau kita memang mau. Karena kita bebas melakukan apa saja yang ingin kita lakukan, dan bila kita melanggar hukum, kita akan diadili secara adil.
Tapi di beberapa negara, rakyat tidak bisa berbuat seperti itu. Mereka tidak bisa pergi ke tempat-tempat seperti Martin Place ini dan menyampaikan protes. Di beberapa negara, anak seusia kita bahkan tidak bisa memusatkan perhatian pada tugas-tugas sekolah maupun hidup mereka karena berisiknya suara senjata api.
Di beberapa negara, mereka mempunyai sistem satu partai dan mempunyai apa yang disebut sebagai Tentara Rakyat. Dan bila rakyat mengadakan kegiatan seperti yang kita lakukan hari ini -menjerit dan berteriak menyuarakan pendapat mereka- Tentara Rakyat datang dan menembaki mereka. Menembaki orang-orang muda seperti kita.
Jadi, bagus. Mari kita bersikap apatis. Mari kita tidak usah memilih! Biarkan saja sembarang orang memerintah negara ini. Dan mungkin suatu hari nanti, kita juga akan mempunyai Tentara Rakyat!”


Selengkapnya tentang novel dan latar belakang :

Josephine Alibrandi berumur tujuh belas tahun, duduk di bangku terakhir SMU. Hidup bersama ibunya yang single parent dan nenek yang kuno dan kolot yang bikin sakit kepala, belum lagi melakukan persiapan untuk menghadapi ujian akhir. Tapi itu belum apa-apa. Josie masih harus menghadapi kenyataan bahwa ternyata tidak semua rencana yang disusunnya dengan begitu saksama dapat terwujud seluruhnya. Tanpa terduga dia harus menghadapi kenyataan bertemu dengan ayahnya untuk pertama kalinya seumur hidup, jatuh cinta, dan membongkar rahasia keluarganya di masa lalu. Terlepas dari semua kekalutan itu, tahun ini pula Josie belajar memahami bahwa kebebasan bukan berarti melupakan masa lalu. Ada kalanya, kau harus menjadi diri sendiri untuk dapat membebaskan dirimu� Looking for Alibrandi adalah novel yang sangat populer dan telah memenangkan berbagai penghargaan, termasuk Children’s Book of the Year Award for Older Readers tahun 1993, Multicultural Book of the Year Award tahun 1993, Variety Club Young People’s Category of the 3M Talking Book of the Year Award tahun 1993, serta sejumlah penghargaan lain. Novel ini juga mencatat kemenangan di Fairlight Talking Book Awards tahun 2000 sebagai buku yang paling keras menyuarakan isu-isu remaja dan lintas budaya dalam 10 tahun terakhir.

Novel ini juga sudah di filmkan! Tonton disini :

http://www.youtube.com/watch?v=LMF4uh05gwg&feature=PlayList&p=739246565BF7B046&index=0&playnext=1

Lebih lengkap lagi : Tanya mbah Google aja ya :)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s