Interview with Moi – Memakanai Pendidikan


Ini hasil wawancara saya dengan presma dan dosen Mikroprosesor dan Antarmuka di kampus saya dalam rangka bulan pendidikan. Idenya adalah memaknai pendidikan dari berbagai sudut pandang, sebuah essay yang mengkritisasi pendidikan kita, diikuti dengan reportase hasil wawancara mengenai makna pendidikan bagi si pelaku pendidikan itu sendiri. Tadinya mau wawancarain pihak rektorat juga, tapi kepepet waktu T,T

Wawancara dengan pak Agus Virgono sendiri sangat contentful . . Nantinya saya ingin membuat hasil wawancara ini ke format yang lebih santai. Hehe, tapi nantilah, kalau sempat ;p Sekarang yang versi padat nya aja ya . .

*) Buat yang kuliah di ITTelkom, selengkapnya bisa di baca di rubrik FOKUS terbitan kampus PODIUM edisi Mei

Wawancara dengan Kak Hanif – Ketua BEM KBM ITTelkom 2009

Apa makna pendidikan menurut anda?

Pendidikan itu adalah pembentukan karakter dan pembangunan kompetensi serta sarana memperluas wawasan. Bagi mahasiswa, hal ini tercermin dalam tri darma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Sudahkah pendidikan kita saat ini memenuhi makna pendidikan yang anda jabarkan diatas?

Instrumen pendidikan di Indonesia belum bisa menghasilkan outputan-outputan yang berkarakter. Masih tidak dapat dibedakan karakter lulusan SMP dan SMA, seperti dari segi pola pikir dan sebagainya. Sekolah dan kampus sepertinya lebih memfokuskan kepada penyampain materi. Pendidikan kita masih membenahi ditingkat teknis, belum kepada karakter. Instrumen pendidikannya itu sendiri dalam hal ini yang harus lebih fokus kepada pembentukan karakter anak didiknya. Apabila pendidikan terlalu fokus pada penyampaian materi maka outputannya nanti akan berupa orang-orang yang apatis.

Pendidikan di Indonesia sendiri bagaimana pada saat ini?

Pendidikan di Indonesia masih memprihatinkan. Ada banyak faktor yang menyebabkannya, diantaranya sarana dan prasarana. Kemudian pendidikan kita juga masih sangat general. Tidak seperti sistem pendidikan barat yang sudah memfokuskan materi dari mulai jenjang yang sangat awal. Untuk membentuk orang-orang yang profesional seharusnya sudah diarahkan dari awal, tidak bisa instan dalam 4 tahun, misalnya. Sebab ini terkait dengan pembentukan karakter. Bagaimana sih karakter seorang pengacara, seorang teknokrat, untuk inilah diperlukannya penspesifikasian sejak awal. Sekali lagi untuk pembentukan karakter.

Bagaimana pandangan anda tentang mahasiswa yang lebih menanggap kuliah sebatas kewajiban dan lebih fokus kepada nilai ketimbang pembentukan karakter?

Itu adalah frame berpikir yang salah. Ilmu disini tidak diukur dari seberapa besar IPnya, tapi dari bagaimana dia bisa mengimplementasikan apa yang sudah dia dapat.

Harapan bagi pendidikan Indonesia kedepannya?

Harapannya adalah pendidikan kita bisa menyentuh semua elemen masyarakat. Pemerintah harus bisa menjalankan apa yang menjadi amanah UUD ’45 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Bangsa disini berarti meliputi semua orang, entah itu kaya atau miskin. Kemudian agar pendidikan itu bukan hanya sebatas pengguguran kewajiban, sekedar transfer materi saja, namun harus benar-benar secara menyeluruh memantau anak didiknya agar dapat menjadi orang yang berguna bagi bangsa ini. Dan ini merupakan tugas dan tanggung jawab kita bersama.

Wawancara dengan Pak Agus Virgono – Dosen Mikroprosesor dan Antarmuka IT Telkom

Makna pendidikan?

Secara luas, pendidikan adalah proses yang membuat kita menjadi manusia. Pendidikan, baik diluar maupun didalam kelas, membuat kita tahu apa tugas kita sebagai manusia. Dalam arti sempit, pendidikan adalah cara manusia untuk bisa survive. Cara agar kita lebih kompetitif. Maka beruntunglah orang yang bisa mendapatkan pendidikan. Sangat disayangkan pendidkan kita tidak bisa mencapai semua lapisan, lebih disayangkan lagi adalah orang-orang yang mendapat kesempatan tidak memanfaatkannya dengan baik.

Makna mendidik?

Bagi saya dalam rangka luas mendidik adalah menjalankan amanah yang diamanahkan pada saya. Sedang dalam rangka yang lebih sempit, mendidik itu bagi saya adalah ikut membangun bangsa. Dengan mendidik suatu saat saya berharap kedepannya akan lebih maju, lebih terarah. Dan mendidik itu adalah proses yang integratif. Tidak bisa hanya didalam kelas, tapi juga diluar kelas. Kalau dalam bahasa GBHN, mendidik manusia seutuhnya.

Tidak semua dosen berpikiran ttg pendidikan yg terintegrasi seperti yang bapak kemukakan, apa pendapat bapak ttg dosen seperti itu?

Memang banyak dosen yang seperti itu. Ada yang takut mengambil resiko tidak populer. Ada dosen yang memang caranya halus, lebih mementingkan cara daripada tujuan, ada dosen yang memang pengecut. Kita tidak menyalahkan teman-teman (dosen-red) karena setiap orang punya watak masing-masing. Namun saya yakin semuanya punya tujuan yang sama, sebab tidak ada yang betah menjadi dosen kalau tidak berjiwa pendidik.

Bagaimana pendidikan Indonesia saat ini?

Pendidikan di Indonesia saat ini menuju ke arah yang salah. Pendidikan yang diberikan tidak sesuai dengan tingkatannya. Dahulu kurikulum pendidikan disusun oleh profesor, akibatnya materi pelajaran itu sesuai dengan umur. Sekarang materi SD saja sudah susah, sehingga akhirnya kamu mencari cara belajar dengan cara lain untuk mengimbangi itu, salah satunya dengan menghapal, sehingga pikiran kamu menjadi pragmatis.  Kamu dicekoki segala macam sampai kamu jenuh, akibatnya ketika kuliah kamu tidak siap menerima ilmu baru.

Siapapun sekarang boleh membuat buku, karena pendidikan sekarang sudah jadi bisnis. Akibatnya buku-buku pelajaran materinya menjadi susah, sebab berisi apa yang si penulis tahu. Sementara intinya mendidik adalah bukan menerangkan apa yang saya tahu, tapi apa yang kira-kira bakal kamu bisa. Secara prinsip tidak salah juga, sebab Indonesia rakyatnya banyak, sehingga peluang bisnis harus dibuka selebar-lebarnya. Namun seharusnya ada supervisor yang mengawasi sehingga tidak terjadi hal seperti ini.

Harapan kedepan?

Saya sih inginnya pendidikan disesuaikan sama psikologis anak. Kalau memang masanya bermain ya bermain saja. Tidak boleh pendidikan untuk usia dewasa kita paksakan ke remaja, tidak akan masuk. Akibatnya nanti sifatnya menjadi pragmatis. Kemudian memasang target juga diikuti dengan perbaikan proses pembelajaran, kalau tidak percuma. Tidak bisa kita mematok outputnya saja, lebih baik prosesnya yang diperbaiki, nantinya outputnya akan mengikuti.

(reported by Indira)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s