Kebebasan Pers


“Setiap orang mempunyai hak untuk menyatakan gagasan dan pendapatnya; hak ini mencakup hak untuk mempunyai pendapat tanpa adanya campur tangan dan hak untuk mencari, menerima, membagikan informasi serta ide-ide melalui media apapun serta tanpa memperhatikan adanya perbatasan.”
 
Pasal 19, “Universal Declaration of Human Right”
Musyawarah PBB, 10 Desember 1948, Resolusi 217A(III)

Kebebasan pers adalah salah satu produk dari demokrasi. Peranan pers dan media dalam rincian “tugas-tugas pers” salah satunya adalah memenuhi hak masyarakat untuk tahu. Dalam perang merebut kemerdekaan pun pers berperan penting dalam menggalang persatuan dan menyebar-luaskan berita penting, termasuk Proklamasi Kemerdekaan RI itu sendiri. Di masa itu meskipun kebebasan pers sangat dikekang, namun para kaum intelektual tetap menyuarakan paham dan protes mereka melalui media-media yang ada, dari zaman kolonial Belanda hingga zaman kedudukan Jepang. Kemudian pada masa rezim Soeharto, yang tonggaknya didirikan diatas genangan darah ratusan ribu penganut paham komunis (atau yang “dituduh” sebagai penganut paham komunis, karena mereka yang dibunuh tidak diadili terlebih dahulu) kebebasan pers juga dikebiri habis-habisan. Pers dijadikan alat pemerintah untuk mobilisasi massa, hanya menyiarkan berita yang menguntungkan pihak-pihak tertentu, serta dilarang keras menyebar-luaskan kebusukan pemerintahan Orde Baru. Banyak para “Pejuang Pena” yang dipenjarakan, di cekal, atau “dilenyapkan” pada masa itu. Sebut saja Pramoedya Ananta Toer, yang dipenjara karena karya-karyanya yang dianggap berbahaya bagi rezim Soeharto. Bahkan Iwan Fals pun pernah dipenjarakan karena lagu-lagunya yang dianggap kontroversial. Kita perhatikan berkali-kali pers kita berada dalam masa-masa suram. Dari masa ke masa masyarakat diseluruh dunia memperjuangkan haknya untuk berpendapat. Pertanyaannya sekarang adalah: Sudahkah pers kita merdeka, lepas dari campur tangan seperti yang tercantum dalam “Deklarasi Universal atas HAM” diatas?

Kenyataannya, dari dulu hingga sekarang pers tetap berada dibawah bayang-bayang, entah itu pemerintahan atau kelompok-kelompok tertentu. Pers dijadikan alat penyebar doktrin, menyebarkan hipotesa-hipotesa yang oleh pihak-pihak tertentu ingin agar dipercaya oleh masyarakat. Sebut saja kematian Lady Diana, John F Kennedy, Abraham Lincoln, Paus Johannes Paulus I, Pangeran Franz Ferdinand dan Istrinya (yang kematiannya merupakan pemicu perang dunia) dan tokoh-tokoh dunia lainnya yang kematiannya begitu misterius sehingga mungkin tidak akan terungkap sampai kapanpun. Dan kelompok-kelompok dibalik konspirasi ini membuat skenario untuk masing-masing peristiwa yang disebarkan melalui media agar masyarakat percaya. Hal ini pula lah yang terus menerus dicoba untuk diungkap oleh orang-orang yang mengerti, bahwa pers kita sekarang ini belumlah sepenuhnya lepas dari intervensi “sang penguasa”. Baik melalui buku-buku, essay, maupun tersisip sedikit-sedikit dalam novel, cerpen, bahkan komik. Misalnya saja dalam Novel Fiksi Harry Potter karya J.K.Rowling, digambarkan bagaimana Kementrian Sihir mengandalkan “Daily Prophet” untuk mengatur opini publik dan menyembunyikan kenyataan yang sesungguhnya dari masyarakat. Juga dalam komik 20th Century Boy karangan Urasawa Naoki, digambarkan bagaimana fakta dari sebuah tragedi luar biasa besar diputar-balikkan melalui media demi mengusung kepentingan kelompok tertentu. Atau dalam karya-karya yang lebih kompleks, misalnya dalam buku “The Secret World Government” yang diterbitkan oleh wartawan Inggris yang memuat seratus peristiwa historis di dunia, atau buku “The Hidden Hand” yang pernah diterbitkan oleh seorang Gubernur Skandinavia yang bernama Cherep Spiridovich (yang tewas secara misterius sebelum sempat menyebar-luaskan karyanya secara utuh dan sempurna, diduga kematiannya akibat racun gas yang terhirup-menurut versi The New York Times edisi 23 Oktober 1926). Sayangnya perlawanan media tidak cukup kuat untuk melepaskan media dari intervensi pihak luar dalam pembentukannya.

Menurut penulis, penyebab hal diatas adalah karena pihak pers dan media yang bersangkutan memiliki banyak kepentingan yang dapat dengan mudah ditekan oleh kelompok-kelompok tertentu. Oleh karena itu, kita sebagai mahasiswa, sebagai masyarakat jurnalistik yang kepentingannya masih terbatas pada aspek-aspek tertentulah yang harus membuka suara. Kemukakan pendapat kita sendiri, gali pikiran kritis kita, kuak semua kebusukan-kebusukan terselubung yang ada, selagi idealisme kita masih menggebu-gebu, selagi semua yang menghalangi jalan kita masih kita anggap debu, dobrak media dengan fakta! Katakan “Kami muak di doktrinasi!”. Wujudkan media yang lepas dari intervensi, benar-benar mengusung kepentingan masyarakat luas, dan tajam menghujam ke tiap-tiap kejadian yang melanda dunia. Penulis berharap dapat menjadi bagian dari hal tersebut dengan bergabung dalam masyarakat jurnalis ini. Semoga demokrasi hakiki yang kita idamkan dapat tercapai, dimana media massa dapat benar-benar menjalankan fungsinya.(Indira)

*

Ini adalah tulisan yang saya buat untuk memenuhi persyaratan waktu mau melamar di Masyarakat Jurnalistik IT Telkom, haha, jadi bisa dibilang karya amatir lah. Mengarang cepat, gak pake riset, yang kepikiran di otak aja, haks, well, namanya juga ngejar deadline, eh?

Saya ngebuatnya sambil mengingat-ingat buku-buku yang pernah saya baca, komik, novel, apapun deh yang terlintas. Diantaranya “The Lady Di Conspirasi”, “20 Mass Killers of 21th Century”, “100 Orang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah Indonesia”, “Harry Potter”, sampai komik “20th Century Boy”, haks, pretty shallow, eh? Namanya juga amatiiiir…

Kalau ada data yang salah, kalimat yang tidak tepat, maaf maaf aja yaa.. but just like what Richard Bach said :

“A profesional writer is an amateur who didn’t quit”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s